#navbar-iframe{opacity:0.0;filter:alpha(Opacity=0)} #navbar-iframe:hover{opacity:1.0;filter:alpha(Opacity=100, FinishedOpacity=100)}

Jumat, 18 Oktober 2013

Kebahagiaan


"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah diladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga). (Ali Imraan;14)


Semua orang merindukan kebahagiaan, semua orang memburunya namun ternyata banyak yang kecewa, usahanya sia-sia, kegelisahan dan duka lara semakin membelitnya. Sebenarnya apa sih kebahagiaan itu? Bagi kebanyakan orang bahagia adalah tercapainya cita-cita, hidup sukses, kaya raya, popular, dan sebagainyaaa. Materi dan uang pun tidak segan-segan untuk memburu harta dengan berbagai cara seperti korupsi, menipu, menyogok, dan sebagainya. Karena ingin dapat wanita cantik berbagai cara dilakukan. Namun ternyata setelah diperoleh masih tidak puas dan kecewa. Karena ingin populer orang menjual harga diri dan kehormatannya. Kebahagiaan duniawi seperti ini bersifat semu dan menipu, didasari hawa nafsu (syahwat) yang tidak pernah puas dalam mengerjar sesuatu.

Sebab-sebab tidak bahagia?

Setidaknya ada empat pemikiran dan paradigma yang salah terhadap kebahagiaan yang tentu saja harus kita hindari.
Pertama, Pikiran yang dipenuhi oleh keinginan terhadap benda-benda yang dianggap membahagiakan. Ingin punya rumah mewah ditempat strategis, ingin punya mobil yang paling baru, ingin punya benda ini, ingin punya alat itu. Alasannya karena gengsi, untuk life style (gaya hidup). Artinya, tentu akan berpusat pada sesuatu yang diinginkan (syahwat). Sedangkan apa-apa yang telah dimiliki dilupakan. Jika ini kuat tertanam dalam jiwa maka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati.

Kedua, Percaya bahwa bahagia bila telah menjadi sesuatu sesuai dengan cita-citanya. Seperti orang yang berkata dalam hatinya “Saya bahagia kalau sudah menjadi direktur” ternyata ketika posisi ini telah diperoleh, hatinya berkata lagi “Aku bahagia jika telah mempunyai perusahaan” kerja keras lagi sampai memiliki perusahaan. Setelah itu dia berpikir lagi “Aku akan bahagia kalau memiliki perusahaan ini, perusahaan itu, untuk melengkapi atau menunjang perusahaanku.” Dibalik itu dia merasa cemas, takut bangkrut, takut kehilangan dan sebagainya. Seperti itu pula orang yang mengatakan “Saya akan bahagia bila anak saya telah menjadi sarjana”, “Saya bahagia bila menjadi Gubernur”, dan seterusnya.

Ketiga, Selalu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Melihat keorang yang lebih beruntung (dalam pandangan diri sendiri) dengan merasa kesal terhadap apa yang diperoleh. Ketika mendapat yang kecil merasa kesal dengan orang yang mendapat lebih besar. Jika ada orang yang berhasil dalam usahanya, akan menganggap diri sendiri gagal. Melihat orang dengan persaingan selalu memunculkan iri dengki, yaitu kesal terhadap orang lain yang lebih sukses secara materi dan menginginkan apa yang diperoleh orang lain itu menjadi lenyap atau menjadi milik sendiri.

Dan terakhir, Percaya kebahagiaan akan datang jika berhasil mengubah situasi yang ada disekitar meskipun yang diinginkan adalah hal-hal yang baik. Amat sulit untuk mengubah orang lain dan lebih sulit lagi memasukkan kehendak diri sendiri kepada orang lain. Silakan berusaha mengubah orang lain namun ketika tidak berhasil janganlah merasa sedih. Membuat manusia berubah bukanlah urusan kita. Yang paling penting dan menjadi urusan kita adalah mengubah diri sendiri.

Dalam meraih kebahagiaan, modal utama adalah taqwa. Sebagimana firman Allah SWT Katakanlah : “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran;15)

Kebahagiaan Rahmat Allah

Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan karunia Allah yang disebut rahmat (kasih sayang), bukan merupakan sebuah hasil usaha semata. Dilimpahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Seperti masuknya hamba-hamba yang sholeh kedalam surga bukanlah dikarenakan amalan mereka semata melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya. Seorang sahabat lantas bertanya tentang sabda tersebut
“Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?” Rasulullah lalu menjawab “Ya, aku juga, kecuali dikaruniai Allah dengan rahmat-Nya. Walaupun demikian kamu harus berbuat yang benar (baik)”. (HR. Bukhari Muslim)

Manusia diberikan kebebasan memilih, jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Tapi seluruh usaha manusia –mau tidak mau- terikat dalam sebuah ketetapan pasti yaitu Takdir Allah. Takdir adalah kehendak Allah dan menjadi hak mutlak Allah. Manusia hanya berusaha, melakukan amalan, berikhtiar, dan bekerja, hasilnya terserah Allah. Kita harus mengimani takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita harus tetap berusaha. Jika dua hal ini dipadukan, insyaAllah Allah akan memberikan kemudahan untuk meraih rahmat_nya. Ada dua keyword disini : takdir dan usaha. Keduanya tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya bisa menjadi pemicu terwujudnya gelombang kebahagiaan.

Dengan meyakini takdir, seorang hamba akan memiliki ketabahan, terutama disaat harus menerima musibah secara bertubi-tubi atau disaat menghadapi ancaman terhadap ketenteraman hidupnya. Ketabahan itulah yang akan muncul melalui proses keimanan yang bertarung melawan bujuk rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk kemudian keluar sebagai pemenang, dan mendapatkan karunia petunjuk Allah. Allah berfirman “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya DIa akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…” (Ath Thaghabun:11)

Hati yang mendapatkan petunjuk niscaya memancarkan cahaya pasrah, menyingkirkan nafsu amarah, menepis rasa kesal dan kecewa sehingga lahirlah kebahagiaan itu. Disisi lain, keyakinan kepada takdir, dan mempunyai nuansa kesegaran berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah akan memberikan pahala bagi orang-orang yang tabah dan sabar.
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ketabahan mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera….” ( Al Insan:12)

Ikhtiar (Usaha) yaitu usaha yang baik atau amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin. Usaha apapun yang dilakukan dengan ikhlas akan memiliki nilai sakral dan berpahala disisi Allah. Setiap amal, apapun bentuknya ditentukan oleh ruh keikhlasan dan peneladanan terhadap manusia terbaik, Rasulullah SAW yang terdapat didalamnya. Dua kandungan itu, bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin berpengaruh positif konstruktif, menekan jauh kelubuk jiwa memberi kepuasan yang tiada tara. Tidak peduli, apakah usaha menampakkan hasil atau belum. Dalam hal ini, usaha apapun yang dilakukan seorang muslim tak lepas dari bingkai Ibadah, atau penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha yang dilakukan, semakin meningkat kualitas kehambaannya.

Bersyukurlah Agar Bahagia

Kebahagiaan itu lebih sering muncul setiap kali seorang muslim selesai melakukan pekerjaan. Disebut dengan kata lebih sering muncul karena selesai atau tidak suatu pekerjaan, berhasil atau tidak suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal didapat oleh seorang muslim. Disaat gagal berusaha, seorang muslim tetaplah berbahagia, karena pengaruh mutiara kesabaran yang tertanam kuat dalam jiwanya. Disaat berhasil, ia akan memperoleh kebahagiaan lebih karena rasa syukurnya yang besar. Itulah keajaiban seorang mukmin..
“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itupun menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Jadi kebahagiaan itu lebih mudah diraih manakala kita menjalankan pekerjaan. Adapun rasa bersyukur yang diungkapkan menjadikan pekerjaan bernilai lebih. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk ceria setiap saat. Beliau mengatakan, Janganlah engkau remehkan kebaikan itu meskipun hanya menjumpai saudaramu dengan wajah yang cerah menyenangkan. (HR Muslim). Senyummu kepada saudaramu (masobih assunnah). Perkataan yang baik adalah sedekah. (Alhadits)

Senyum, berwajah ceria dan berkata baik adalah membiasakan diri bahagia, dengan menanamkan dalam diri berpikir positif dan mensyukuri yang ada.. memang secara umum, rasa syukur itu lebih mudah dilakukan tapi sedikit yang mau mengerjakannya. Yang sulit adalah tetap sabar saat terjadi musibah. Disebutkan dalam hadits, “Sesungguhnya, ketabahan yang sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah.” (HR Bukhari).
Rasa syukur akan memberikan nilai lebih, terhadap penyegaran hati dan ketentraman jiwa. Dari situlah, sebuah karunia akan semakin terasa kenikmatannya. Sebagimana realitas kehidupan, kebahagiaan biasa hadir disaat seorang hamba mengakhiri ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa nikmatnya.
“Orang yang melaksanakan Ibadah puasa, memiliki dua kebahagiaan, yang pasti akan dirasakannya: Saat berbuka, ia berbahagia karena selesai berpuasa. Saat berjumpa dengan Allah, ia berbahagia karena Ibadah puasanya.” (HR Bukhari).

0 komentar:

Posting Komentar