Sabtu, 22 Februari 2014
Colours of Love..
Kelas 10-1
Pertama aku mengenal Abel, aku duduk sebangku bersama dia. Dia
anak yang cukup ramah dan berpenampilan agak childish ku rasa. Dia juga anak
yang cukup pintar, apalagi soal matematika. Dia sangat membantuku hehe dan saat
pengenalan dengan wali kelas ku dikelas 10 yang bernama Ibu Diah Ramadhani. Tiba
saatnya setelah pengenalan dengan wali kelas dilanjutkan dengan penentuan
pengurus kelas seperti ketua kelas, wakil kelas, sekretaris, bendahara, dan
lain-lain. Dan Abel juga mengajukan ku untuk menjadi salah satu pengurus kelas,
benar-benar diluar dugaan. Pemilihan dilakukan dengan polling, ternyata akulah
yang mendapat polling terbanyak. Pertanda bahwa akulah yang menjadi ketua
kelas. Sangat tak terlintas sama sekali dipikiranku. Kenapa bisa aku
memenangkan polling karena suara terbanyak padahal mereka kan belum mengenalku
jauh. Ok sepertinya aku tak bisa menolak lagi dengan apa yang diamanahkan. Sesuai
polling juga yang menjadi wakil ku adalah seorang lelaki bernama Nevan. Nama
yang cukup bagus tapi tak sesuai ku bilang. Berkulit hitam legam, namun tinggi
semampai dari kebanyakan.
Hariku hari ini cukup tak membosankan karena hanya sebatas
perkenalan-perkenalan saja. Abel orang yang sangat mudah beradaptasi, aku
sangat beruntung bisa sebangku dengannya. Dia juga tidak menutup diri hanya
dengan ku, ku sudah bilang dia termasuk tipe yang ramah. Jadi dia pun juga
berkenalan dengan yang lainnya. Tak lama, aku pun dan Abel berkenalan dibangku
belakang belakang barisan kami. Menjelang beberapa minggu, kami berteman baik
dan semakin akrab dengan teman-teman yang bernama Inka, Alona, Nada, dan Sheila. Dan akhirnya kami
seperti bisa disebut "geng" berjalan dengan seiringnya waktu. Disebut geng karena kita
kemana-mana selalu berenam termasuk aku (Aurora) sebut saja Ara dan Abel.
Kekantin, keperpustakaan, ketoilet, sampai mengerjakan tugas
atau peer saja sering bekerjasama hihi.. Dikelas 10 memang kami banyak sekali
jam kosong, maka makin intens lah kedekatan kami berenam dam makin kompak
tentunya. Karena satu sama lain sangat menghargai dan asik serta seru jika
mengobrol. Tak lupa kadang kami juga sering berfoto-foto ria menunjukkan bahwa
kami berenam memang sangat akrab dimata anak-anak yang lain.
Abel yang ternyata memilih ekskul drum band lebih dulu
berpacaran dibanding kami berlima. Salah satu kelas lain menyukai Abel dan
mengutarakannya. Lelaki itu bernama Andreas. Abel pun menerimanya dan terjalin
begitu cepat. Tapi nyatanya Abel tak berlangsung lama berhubungan dengan Andreas.
Abel pun enggan memberikan keterangan detail kenapa ia putus dengan Andreas.
Tapi yang tak ku habis pikir, Andreas dengan tanpa malu memberi isyarat genderang
perang dengan Abel karena ia menceritakan seluk beluk negatifnya Abel semasa
mereka pacaran. Sangat memberikan kesan negatif dipikiran kami atas sikap
tersebut, dan langsung siap siaga memberikan pembelaan tentunya untuk Abel yang
menjadi teman kami, terlebih untuk ku yang paling dekat.
Tak lama Alona pun juga sudah mempunyai pacar yang bernama Kak Franky,
Dia kakak kelas kami karena sudah berada dikelas 12, 2 tahun diatas kami.
Hubungan mereka sangat baik dan bisa dibilang selalu harmonis. Alona yang
memang berkarakter tegas tapi manja. Dan Kak franky juga sepertinya seorang
yang mampu memahami Alona.
So far, tak ada yang berubah sampai Nada pun juga ternyata
berpacaran dengan Baihaqi. Lelaki kelas lain yang sekelas dengan Andreas
dikelas 10-2. Bisa dibilang hubungan mereka aneh. Karena sepertinya Baihaqi
memang tak ingin terlalu publikasi atas hubungannya, beda halnya dengan Nada.
Nada yang tipenya ingin selalu diperhatikan dan ingin diakui selalu mau bersama
Baihaqi jika dia ingin. Maka siapapun yang menilai hubungan ini, pasti dirasa
hubungan ini hanya sepihak. Karena Nada selalu menghampiri Baihaqi lebih dulu tanpa rasa
malu. Uuuuhhh.. Aku saja sedikit ilfeel hehehe
Lain
case dengan aku, Sheila dan Inka yang masih menjomblo
sampai sekarang. Aku sebenarnya juga sudah ditembak oleh teman sekelas
Andreas
dan Baihaqi yaitu Eiga. Setelah waktu yang sangat lama, barulah aku
memberanikan diri untuk membuka hati untuk Eiga. Namun hubungan ku pun
tak
berlangsung lama dengan Eiga. Hanya beberapa minggu, mungkin Eiga
bermaksud
untuk mendongkrak popularitas saja agar dilihat bisa berpacaran
denganku.
Tapi aku tak peduli sama sekali karena aku pun memang menerimanya tanpa
ada
rasa apapun. Eiga terkadang juga suka menuntut. Aku sangat tak
menyukainya. Disusul
oleh kakak kelas 1 tahun diatas ku yaitu Mario. Kalau Kak Mario aku
telah
mengenal dan mulai mengingat dimasa lampau sewaktu SD aku pernah punya 1
organisasi dengannya dalam Acara Maulid di SD kami. Dalam Acara Maulid
tersebut
Kak Mario lah yang membacakan Ayat-ayat Al-Qur’an dan aku sebagai
saritilawahnya. Jadi saat dia menembakku, aku juga sebenarnya tak ada
rasa
apa-apa dan berat untuk menerimanya. Sampai tengah malam pun Kak Mario
belum
juga menyerah untuk menunggu jawaban, karena aku yang telah kelelahan
dan menerima
teleponnya sambil tiduran dengan mata yang sebenernya sudah tak kuat
lagi dirasakan untuk membuka mata. Dan secara tak sadar aku menjawab
“ya” yang artinya aku
sudah menerimanya.
Dan keesokan paginya Kak Mario sudah menelepon ku dan
mengingatkan bahwa semalam aku telah menerimanya. Oh my god.. Sama halnya dengan Eiga, hubungan ku dengan
Kak Mario pun tak berlangsung lama karena masalahnya ternyata Kak Erika yang
memang menyukai Kak Mario tapi lebih tua dari Kak Mario terus mendesak Kak
Mario dan juga menghampiriku untuk memperingatkan bahwa aku harus menjauhi Kak
Mario. Aku sama sekali tak masalah dengan hal itu, karena memang aku tak ingin
mencari ribut. Terlebih memang aku tak ada rasa yang lebih jauh dan spesial dengan
Kak Mario.
Tak ada yang berbeda dengan Inka dan Sheila yang masih menjomblo
sampai hari ini. Dan Abel pun sudah jadian lagi dengan lelaki yang jauh dari
pandangan sekolah. Lelaki itu berada dilingkup yang berbeda. Lelaki itu teman
rumah Abel sendiri yang nota bene 1 tahun diatas kami. Cukup lumayan penampilannya
dan kelihatannya sangat asik. Cocoklah dengan Abel yang memang seru
karakternya. Adith namanya.
Berlanjut kemudian kedekatan ku dengan Adison. Adison yang
berperawakan kurus namun putih dan babyface itu mampu menarik ku. Aku nyaman
sekali dengannya. Selalu nyaman. Beralih dari Adison, sebenarnya sudah ada yang
memperhatikan lebih dari seorang teman dari kejauhan. Teman sekelasku sendiri,
aku pun tak menyadari hal itu sampai memang sudah tak terdengar asing lagi
ditelingaku bahwa ia menyukaiku. Teman sekelasku itu bernama William. William
yang ku tahu statusnya tak sendiri pun aku mengacuhkannya, biarpun sesering dia
selalu ada dihari-hariku untuk memberiku perhatian, dan menelepon dengan
antusias. Aku merespon dengan sangat baik tapi tak berniat untuk menjalin
hubungan. Karena alasannya pertama, ia tak sendiri statusnya. Kedua, aku memang
belum tahu dia secara utuh. Jika dikelas saja, kita hanya banyak diam dan tak
terlalu banyak komunikasi atau mengobrol.
Tapi diluar itu, dia sangat baik. Dia suka meneraktir ku, suka
meminjamkan hpnya yang kameranya memang cukup bagus untuk geng ku berfoto-foto
ria hahaha orang yang cukup baik lah penilaiannya biarpun fisik atau penampilan
juga tak terlalu yang wah. Makin dekat kami semakin dekat dan aku selalu mau
mengerti kalau dia ingin memutus komunikasi dihp saat dia ingin bertemu atau
bersama dengan pacarnya yang sudah lebih dulu mengisinya di SMP sebelumnya bernama
Naira. Aku tak tahu kenapa aku bodoh bisa tenggelam akhirnya dan luluh atas
semua perhatiannya selama ini dan memaklumkan statusnya. Kenapaaaaaa? Yah
walaupun aku juga mencoba jaga jarak jika ditanya hubungannya dengan William.
William sudah berulang kali mengutarakan perasaannya dan meminta jawabanku. Ku sudah
menolak! Karena ya itu tadi, statusnya dan memang aku belum mau menjalin
hubungan lagi.
William tak menyerah sampai disitu, dia mencoba menunggu
jawabanku lagi nanti katanya tanpa dia ingin melakukan putus hubungan dengan
Naira pacarnya. Aku sama sekali tak memaksanya. Dan aku senang hubungan ku
dengannya hanya sebatas ini, karena aku pun juga bisa dengan bebas masih bisa
berhubungan dengan siapa saja yang ku suka tanpa ada rasa risih dan embel embel
punya pacar. Tapi tetap saja untuk kedua kalinya ia mengutarakan perasaannya
lagi keaku. Aku pun tetap menolak dan menolak.
Sampai pada akhirnya kelas 10 pun berlalu. William pun tetap
pada pendirian untuk tetap menunggu jawaban”IYA” dariku. Entah kapan waktu itu
tiba? Lihat saja kelanjutannya nanti.
*bersambung..
0 komentar:
Posting Komentar