*bersambung..
Sabtu, 22 Februari 2014
Fifatango
Siang itu atau tidak tepatnya pagi itu. Aku mulai menginjakkan
disekolah SMK. Aku mengenal SMK Negeri Fifatango ini dari tetangga ku bernama
kak Deila, aku memanggilnya dengan sebutan kakak karena ia lebih tua sekitar 6
atau 7 tahun dariku. Dan aku ingat salah
satu teman sd ku bernama Samuel juga pernah menyebut nyebut nama sekolah ini
karena menginginkan masuk kesekolah ini saat keputusan telah bisa dibilang
lulus dari sekolah smp sebelumnya. Tapi sayangnya dia tergeser sehingga harus meneruskan
kesekolah swasta.
Aku kesini bersama ibuku, ya dengan beliau lah. Aku memang
mendaftar beberapa sekolah dan selalu bersama ibuku. Hanya dengan ibuku, ibuku
yang selalu mendukung dan tanpa henti serta
keluh dalam mengantarku kesana kemari. Aku mengisi sejumlah form-form
disini. Menunggu kabar baik dan ya, akhirnya aku diterima di SMK ini. Ini kali
pertamanya aku memutuskan sendiri sebuah keputusan untuk memilih jurusan. Oh my
god, confused…
Dan setelah memikirkan begitu panjang, ok aku memilih jurusan
akuntansi. Ya Akuntansi, disitu tak ada alasan lain. Aku bertanya-tanya kepada
pendaftar lain jika jurusan akuntansi itu hitung-hitungan urusannya. Yah
walaupun aku tau aku tak ahli dalam menghitung atau sejenis matematika tapi aku
tak ada pikiran lain, diotak ku hanya ada pikiran menghibur diri "Mungkin
setelah lulus nanti aku bisa bekerja yang mengenai uang dan uang sehingga aku
mempunyai banyak uang.” Tertawa geli dalam hati. Cepat atau lambat pun, aku
juga harus bisa belajar untuk memilih keputusan sendiri bukan?
Sejenak sadar dari lamunan, mengikuti semua proses
pendaftarannya. Ramai sekali disana, dan tak ada yang ku kenal sama sekali.
Semua terlihat asing bagiku, tapi aku yakin nanti pun aku akan terbiasa. Dan
keesokannya briefing untuk pengenalan guru dilanjutkan persyaratan MOS yang
harus dipenuhi. Ikat rambut dengan memakai pita, memakai foto dan nametag yang harus berkumpul diaula. Dari sekian banyaknya siswa siswi,
dibagi menjadi beberapa grup dan dipimpin oleh masing-masing mentor. Mentor ku
saat itu kak Kinita dan alm. kak Alvin.
Kak Kinita yang ramah dan seksi ku fikir hehehe dan alm. Kak Alvin
yang bisa dibilang pendiam, tak banyak omong dan yang paling harus diketahui
dia itu ganteeeeeeeeeeeng, putih dan idola kaum hawa di sekolah ini sepertinya.
Tapi sepertinya aku sama sekali tak tertarik karena kesan yang ku lihat dari
dia hanya pendiam dan tak ramah jadi aku tak begitu suka dan melihat yang
berarti dari seorang laki-laki. Toh memang aku masih belum perlu untuk melihat
dan tertarik dengan laki-laki. Jadi perlu dicatat, aku menjadi salah satu yang
TAK TERTARIK oleh Alm. Kak Alvin.
Hari kedua MOS aku diajak berkeliling bukan berkeliling, lebih
tepatnya dikerjain. You know? Aku harus menyanyikan lagu toge goreng sambil
dengan gerakan-gerakan yang sebelumnya telah diajarkan. Astaga kelas demi kelas
harus menyaksikan kebodohanku ini. Dan kau tahu alasan apa yang dipunyai kak
Kinita ini? Dia ingin menunjukkan bahwa akulah salah satu anggota grup dia
pimpin yang mempunyai senyum termanis katanya, makanya aku harus dikenalkan
kesetiap kelas hanya untuk alasan itu. Hanya untuk alasan yang sama sekali tak
bisa diterima olehku, pikiranku dan juga hatiku. Tapi caranya mengenalkanku
itulah masa harus dengan cara menyanyikan lagu yang aneh ituuuuuuuuuu. Aaaaaah
kenapa harus terjadi padaku oh Tuhan.. Benar-benar menyesakkan.
Hari-hari berlalu dan bergantilah hari terakhir MOS. MOS
terakhir syaratnya adalah membuat surat cinta yang akan diberikan oleh salah
satu mentor yang disukai. Tapi naas, tak ada mentor yang ku suka disana.
Shit! Kalaupun aku tertarik, aku malah tertarik dengan mentor perempuan. Demi
apapun, tak lucu rasanya jika aku membuat surat cinta yang malah diberikan oleh
kesesama jenis. Huft.. Aku seperti mengutuk diriku sendiri, dan akhirnya aku
putuskan untuk memberikan surat cinta ke alm. Kak Alvin karena hanya dia yang ku kenal dan yang selama ini
menjadi mentor ku. Tapi lagi-lagi aku meyakini diriku bahwa aku meberinya surat
cinta ini pure karena aku bingung tak
tahu harus memberi kesiapa, bukan karena tertarik. Bukan karena tertarik.
Pikiran dan hati ku selalu berkata mengulang seperti itu.
Tahap akhirnya, dioutdoor. Diminta untuk baris berbaris, dibawah
terik. Oh my god, mimpi apa aku semalaaaam? Tak puas dibuat bingung karena
menulis surat cinta ditambah harus bertahan dibawah terik untuk lebih mengenal
dasar-dasar PBB (Peraturan baris-berbaris). Iyuwwh sangat membosankan dan
melelahkan! Dan disesi itu, jika ada kesalahan sedikit sajaaaaa, salah satu
mentor akan protes habis-habisan dan mengajari sambil mengomel. Ya Tuhan.. tak
hanya itu, tersadar ternyata alm. Kak Alvin terus memperhatikanku dalam diam
tentunya. Sikap diamnya yang sama sekali tak memberikan ku rasa tertarik tetapi
juga tak membencinya.
Benar, setelah tahap ini selesai ya selesai, aku mengucap syukur
panjaaaaaaaang karena hari itu benar-benar melelahkan. Setelah itu kembali
keaula, setelah dijelaskan ternyata tahap PBB tadi ikut memberikan andil yang
besar untuk menentukan salah satu ekstrakulikuler. Ya ekstrakulikuler paskibra
yang jelas. Dan aku masuk sebagai nominasinya. Oh my god, ujian apa lagi ini?
Aku memang mengakui dalam perjalanan tahap tadi aku sangat jarang melakukan
kesalahan. Ku rasa itu alasan kuat yang memang bisa ku terima diotakku. Tapi
sayang, real berkata lain. Aku
dipilih karena usulan kak Alvin, aku tahu kenyataan ini dari alm. Kak Alvin
langsung. Dia berbisik sambil menatap tajam kearah ku “kakak yang mengusulkan kamu
ikut ekskul paskib” Mataku membalas tajam dan otakku berpikir “dia fikir, aku
akan senang dipilih masuk ekskul ini? Jadi alasan dia memperhatikanku adalah
untuk memilihku diekskul ini?” Tapi aku hanya bisa diam dan tak mengucap satu
patah katapun sampai alm. Kak Alvin menjauh dan pergi dari hadapanku.
Lupakan masalah ini, sesampai dirumah aku menceritakan panjang
lebaaaaar keorang tua ku soal PBB yang telah ku lewati. Ayah ku hanya komentar
“Hanya PBB kan? Tak usah dibesar-besarkan begitu. Bukan mendapat perlakukan
kekerasan atau pelecehan seksual kan?” Sontak aku tertegun “Haaaaaaah.. ayah ku
menyepelekan sekali rasanya dan seperti meninju muka ku dengan hantaman sangat
keras walaupun hanya karena kata-kata. Tapi juga menyadarkan ku bahwa
perkataannya itu benar” pikirku. Tentu aku tak langsung begitu saja membenarkan
dan menjawab, “tapi PBB tidak mudah pah, ada keletihan disana. Papah tau
bagaimana harus bertahan dibawah sinar matahari yang sangat terik dan dengan
mudahnya bisa membuat kulitku hitam legam.. Apa papah masih menyepelekan hal
itu?” Papah hanya tersenyum “Kali ini kau baru saja merasakan bertahan disinar
mentari yang terik, dan suatu saat kau harus bertahan dikeadaan yang
benar-benar sangat menyulitkanmu. Ingat itu sayang..” Aku benar-benar harus
mengalah kali ini.. “Yaya pah. Terimakasih atas responmu yang baik ini”. Lain
halnya dengan ibuku, yang mendukung ku dan tentu saja mengkhawatirkanku “Tapi
kau tak kenapa-kenapa kan? Tidak ada tragedi pingsan kan?” aku terkekeh pelan
dia seperti mengheboh-hebohkan segala dengan kata tragedinya itu. “Tidak mah,
aku baik-baik saja.” “Untungnya..” susul ku.
Setelah itu keesokan harinya, aku menjumpai sekolah ku. Aku
mulai menjamah seperti apa sekolah ini dan juga siswa-siswi yang lain. Semoga
menjadi hari yang indah.
*bersambung..
*bersambung..
0 komentar:
Posting Komentar