Aku mulai merasakan getar rasa, mulai membiasakan diri akan kehadiranmu, dan mulai percaya yang kau rasakan juga adalah sama. Setiap kau sapa aku, setiap kau menceritakan kebiasaanmu, setiap kau membisikkan keinginanmu dimasa depan, setiap teguranmu, dan setiap candaanmu yang bahkan tetap terlihat serius; aku percaya ini bukan rasa yang biasa. Dulu aku takut mengartikan kata-katamu dan segala kalimat manis itu adalah salah satu respon bahwa kau juga mempunyai perasaan yang sama.
Beberapa minggu yang lalu, aku begitu percaya diri dan begitu memercayai bahwa aku yang menjadi satu-satunya dihatimu. Namun, ternyata akupun bisa salah. Salah mengartikan isyarat yang kau berikan. Harusnya aku menyadari bahwa aku terlalu tinggi jika mengharapkankamu berada disini, didekatku, disampingku. Terlalu mimpi jika menginginkanmu menjadikan aku yang pertama LAGI untuk mengisi hatimu. Dan terlalu tolol bahkan menganggap perhatianmu yang ternyata tak hanya diberikan untukku.
Pada akhirnya aku sadar, aku hanyalah persinggahan, ketika kamu lelah untuk berjalan. Aku cuma sosok yang kau datangi untuk sementara. Betapa bodohnya aku bisa begitu menyayangi seseorang yang bahkan meletakkan hatinya pada banyak orang.
Dulu aku tak ingin mendengar perkataan teman-temanku. Aku mencoba menutup telinga pada setiap bisikan yang mengatakan aku ini abnormal yang hanya bisa nyaman dengan teman perempuan, aku ini gadis belasan tahun yang bodoh karna menutup diri oleh perasaan banyak laki-laki yang menghampiri, aku ini bodoh tetap mau berada dalam kesendirian, dan aku ini penuh misteri yang bisa menolak sosok laki-laki yang dimata mereka berwajah menarik. Dulu, aku sama sekali tak peduli semua itu, dan hingga pada akhirnya kebodohanku semakin lengkap karna hal itu ternyata telah hadir dan bisa merasakan hal yang memang tak biasa buat ku. Mempunyai rasa yang mungkin telah diduga semua orang. Mempunyai rasa yang dinilai biasa untuk kebanyakan orang untuk orang seusiaku. Mempunyai rasa dimana ada rasa "aneh" saat satu dengan yang lainnya tidak saling menyapa dalam suatu kebiasaan.
Aku tak menyangka jika orang yang begitu halus membisikkan "masa depan" begitu manis mengucapkan "rindu" dan begitu indah berkata "sayang" adalah orang yang harusnya dari awal tidak ku percayai untuk masuk kedalam kehidupanku. Kamu tak tahu betapa aku begitu tergoda akan kehadiranmu. Kamu tak paham betapa rasa ini mulai mengetuk pintu hatiku dan aku mulai mengizinkan kamu berdiam disana.
Sungguh bodoh!
Mengapa begitu mudah menjatuhkan airmata untuk kamu yang tak pernah menangisiku? Mengapa rindu begitu sialan karena menjadikanmu sosok yang paling sering ku sebut dalam doa? Mengapa rasa ini begitu tak masuk akal ketika perkenalan singkat kita ternyata berujung pada hal yang tak ku duga? Kau tak tahu betapa sulitnya melupakan perasaan yang sudah melekat, kau tak tau begitu rumitnya perasaan ini, kau tak tahu betapa tidak mudahnya menghilangkan kamu dari hati dan otakku. Rasa ini begitu mudah datang untuk sosok sepertimu dan entah mengapa membenci itu susah.
Kalau kau ingin tahu seberapa dalam perasaanku, rasa ini seperti air laut yang enggan surut. Aku telah membiarkan diriku tenggelam, sementara kamu yang berada dipesisir pantai hanya bisa melambaikan tangan dan menertawakan kesesakanku. Apa yang bisa kau anggap lucu dari perasaan ini? Mengapa kau begitu mudah menjadikan perasanku yang kau pikir bisa membuatku tertawa?
Sinaran pesonamu, begitu hebat. Begitu mudah aku terjebak bayang-bayang yang ku pikir nyata. Begitu gampangnya aku terjerumus pada kesemuan yang tak pernah jadi kenyataan. Harus ku larikan kemana rasa yang makin dalam ini? Harus ku buang kemana rindu yang tiba-tiba sering berujung airmata ini? Haruskah aku bilang padamu, dengan mata yang sembab, dengan rambut yang berantakan, dengan wajah yang begitu lelah hanya untuk memintamu kembali?
Pertanyaan tentang perasaanku telah terjawab, walau tak kau jawab secara langsung. Kau tak punya perasaan sedalam yang ku berikan, kau tak merindukanku sedalam yang sering ku lakukan, dan kau tak ingin menjadikanku yang terakhir. Ah, seandainya sapaanmu masih sehangat yang ku rasakan. Mungkin aku tak akan sesedih ini, tak akan seberantakan ini dan tak akan segila ini.
Kalau kau ingin pergi, maka pergilah..
Tapi setelah ini, pergilah pada ibumu dan cintai beliau dengan ketulusan, sehingga kau bisa belajar meyayangi perempuan lain dengan ketulusan yang sama. Katakan padaku, kau akan menganggap kata sayang adalah kata yang "sakral", sehingga tak akan kamu ucapkan hanya untuk menyakiti seorang perempuan. Berjanjilah padaku, setelah ini kau akan benar-benar pergi, mencari perempuan baru untuk kau beri kebahagiaan; bukan tangisan. Katakan padaku, jika kau tak mampu melakukan semua hal itu, aku bisa membantumu tapi kamu kembali dan mau ku ajak saling memahami.
Suatu saat nanti, kita akan bertemu dengan kebahagiaan masing-masing. Kau merangkul kekasih barumu atau bahkan telah menjadi pendamping hidupmu dan memperkenalkannya padaku. Aku menggenggam erat jemari kekasihku ataupun pendamping hidupku pula yang berhasil menghapus mendung dihari-hariku. Lalu, kita menertawakan masa lalu, betapa dulu aku dan kamu pernah begitu lucu.
Terimakasih untuk tawa yang kau titipkan pada setiap candaanmu saat itu. Sekarang, aku sadar betapa sosok yang pernah membuatku tersenyum bahagia dan tertawa paling kencang juga adalah laki-laki yang bisa membuatku menangis paling deras dan kencang.
1 komentar:
Masa lalu, biarlah menjadi guru yg akan membimbing kita ke masa depan yang lebih baik.
Keren,,, artikel yang bagus.
Posting Komentar