#navbar-iframe{opacity:0.0;filter:alpha(Opacity=0)} #navbar-iframe:hover{opacity:1.0;filter:alpha(Opacity=100, FinishedOpacity=100)}

Jumat, 01 November 2013

Delapan Ilmu Kehidupan

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (An-naazi'at, 79: 40-41)

Suatu hari, Syaqiq Albalkhi seorang bertanya kepada muridnya yang bernama Hathim Al-ashom. "Sudah berapa lama Engkau menuntut dariku?" " Tiga puluh tiga tahun", jawab Hatim Al-ashom. "Apa yang engkau telah pelajari selama itu?" "Hanya delapan hal!", jawab Hatim "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi ro'jiuun, ku habiskan usiaku untuk mendidikmu tapi engkau hanya belajar delapan hal dariku? Ucap Syaqiq keheranan. "Benar guru, aku hanya belajar delapan hal tersebut. Aku tidak mau mendustaimu." "Coba kamu sebutkan delapan hal itu?" pinta Syaqiq.

"Pertama, ku lihat setiap manusia memiliki kekasih. Ketika ia mati, kekasihnya mengantar hingga kubur lalu meninggalkannya sendirian disana maka ku pilih amal kebajikan sebagai kekasihku, sehingga ketika aku masuk kubur, dia akan ikut  bersamaku.: Ujar Hatim "Bagus, bagus... lalu apa yang kedua?" sela Syaqiq.

"Kedua, aku renungkan wahyu Allah SWT berikut,
"wa amma man khoffaa maqooma robbihi wan nahaan nafsa anil hawa fa-innal jannata hiyal ma'wa" (Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.) (An-naazi'at, 79: 40-41)
Aku tahu bahwa ucapan Allah pasti benar, maka aku berjuangan untuk melawan keinginan nafsuku hingga tunduk kepada Allah.

"Ketiga, ku perhatikan manusia memuliakan dan menyimpan semua benda berharga yang dia miliki. Kemudian ku perhatikan wahyu Allah SWT berikut,
"maa indakum yanfadu wamaa indallah baaq" (Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal) (An Nahal, 16:96)
Maka setiap kali ku peroleh sesuatu yang berharga, ku persembahkan kepada Allah agar terjaga selalu disisi-Nya.

"Keempat, ku lihat setiap manusia mengejar harta, kemuliaan leluhur, kehormatan, dan nasab. Setelah ku perhatikan, ternyata semua itu tidak ada apa-apanya. Kemudian ku perhatikan wahyu Allah Ta'ala berikut,
"Inna akromakum iendallahi atqookum" (Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu) (Alhujurat:13).
Maka aku beramal untuk mewujudkan takwa hingga ku peroleh kedudukan yang mulia disisi Allah.

Kelima, ku perhatikan manusia saling mencela dan melaknat, dan sumber utam ahal itu adalah hasad. Kemudian aku mengingat dan memperhatikan wahyu Allah Ta'ala sebagai berikut,
"kami telah menentukan antara kehidupan mereka dalam kehidupan Duna" (azzukhruf:32)
Aku tahu bahwa semua telah dibagi oleh Allah, maka ku tinggalkan sifat hasad, ku jauhi manusia yang saling iri dengki dan aku tidak bermusuhan dengan seorangpun.

Keenam, ku lihat manusia saling menganiaya dan saling membunuh, sedangkan Allah telah mewahyukan
"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuhmu" (fathir:6)
Maka ku tinggalkan permusuhan dengan manusia dan ku jadikan syaitan sebagai satu-satunya musuhku. Aku selalu mewaspadainya dengan sekuat tenaga. Sebab Allah sendiri yang menyatakan ia sebagai musuhku.

Ketujuh, ku perhatikan setiap orang mengejar-ngejar sepotong roti ini (harta), sehingga rela menghinakan dirinya dengan melakukan yang haram. Kemudian ku perhatikan wahyu Allah berikut,
"Dan tidak ada satu pun yang melata di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya." (Hud:6)
Aku tahu bahwa diriku merupakan salah satu dari yang melata yang dijamin oleh Allah rizkinya, oleh karena itu ku sibukkan diriku untuk menunaikan kewajiban yang diberikan Allah dan tak ku risaukan apa yang telah dijamin Allah bagiku.

Dan kedelapan, ku perhatikan semua orang bergantung kepada makhluk. Ada yang bergantung dengan ladangnya, dengan niaganya, dengan perusahaannya, dan dengan kesehatan jasmaninya... Semua bergantung kepada sesama makhluk lainnya. Akupun kembali kepada wahyu Allah berikut,
"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)" (Attalaq:3)
Mendengar jawaban Hatim, Syaqiq berkata "Wahai hatim, semoga Allah memberimu taufik. Aku telah mempelajari taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur'an.. Dan ku temukan bahwa semua jenis kebaikan dan ajaran agama berkisar pada delapan hal yang kamu sampaikan tadi. Barangsiapa yang mengamalkan delapan hal tersebut, berarti dia telah mengamalkan isi keempat Kitab suci diatas.

Kekuatan ilmu terletak pada amal saleh yaitu segala bentuk kebajikan yang dirasakan oleh orang lain. Apalah artinya ilmu jika tidak diamalkan pada hal-hal yang diridhai Allah. Amal ini mendapatkan nilai disisi Allah meskipun kecil dan terkadang dianggap tak berarti oleh kebanyakan manusia. Misalnya, senyum yang dikatakan Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam,
"Janganlah kalian meremehkan kebaikan itu meskipun dengan menjumpai saudaramu dengan wajah yang cerah", "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah" (HR)

Amal yang saleh merupakan amal yang didorong oleh keikhlasan dan keimanan. Bukan dorongan hawa nafsu keduniawian yang dapat merusak diterimanya amal tersebut. Hawa nafsu akan berbahaya jika dijadikan motivasi melakukan sesuatu karena membuat manusia jauh dari keridhaan Allah.

Manusia yang saling berlomba dalam mengumpulkan harta dan kehormatan seringkali terjebak dalam iri dengki. Iri dengki ini membawa pada kebencian dan ujung-ujungnya adalah dendam dan permusuhan. Padahal itulah yang membuat agama mereka terkikis dan menjadi rusak. Agama yang didirikan dihati kita dibangun dengan iman dan mentawhidkan Allah serta sangka baik kepada sesama manusia. Agama Islam mendidik kita untuk bertawakal kepada Allah. Sebab Allah lah yang Maha berkuasa dan menentukan nasib manusia.

Manusia harus menjadikan syaitan sebagai musuhnya. Karena syaitan berperan untuk merusak mereka dengan berbagai cara. Manusia yang kufur dan munafik sebenarnya sedang ditunggangi syaitan dan bukan syaitan itu sendiri. Mereka adalah korban pemanfaatan bala tentara iblis yang perlu diselamatkan agar kita selalu bermusuhan. Perdamaian adalah tujuan Islam. 

Banyak orang yang mengejar uang, harta, dan barang berharga lainnya, padahal semuanya akan lenyap. Apa yang dimakan ataupun diminum bagaimana pun enaknya akan berakhir ditoilet. Sedangkan apapun yang dipakai seperti baju, kendaraan, rumah dan sebagainya akan berakhir ditempat sampah harta benda atau apapun yang dikejar-kejar itu bisa setiap saat meninggalkannya. Atau justru yang mengejar-ngejar itu yang akan meninggalkan harta bendanya. Bahwa manusia akan berpisah dengan apa yang dimilkinya didunia ini adalah sebuah kenyataan yang pasti dan tidak terbantahkan. KEMATIAN akan memisahkan manusia dengan istri, suami, anak-anak, sanak famili, teman-teman sejawat, organisasi, dan dibawa ke liang kubur selain daripada amal salehnya.
Manusia ingin mulia dengan amalnya, namun banyak yang terjebak dengan apa yang dicapai oleh orang yang beramal di dalam kehidupan dunia yaitu harta, jabatan, dan hiburan yang melalaikan padahal di sisi Allah ukuran kemuliaan bukanlah harta, tahta dan wanita atau lainnya. Manusia yang paling mulia disisi Allah adalah mereka yang paling takwa. Maka jangan menganggap mulia mereka yang bermaksiat kepada Allah bagaimanapun posisi mereka dihadapan manusia lainnya.

Ingat! Kematian adalah Kepastian!!!
Lihat cerita singkat berikut ini
BAGAIMANA AKU HARUS MEMBERI TAHUMU

Alkisah ada seorang Nabi yang bersahabat dengan Malaikat Maut. Pada suatu hari Nabi Allah ini berkata malaikat maut, "Wahai Malaikat Maut, bila tiba waktunya engkau mencabut nyawaku, maukah engkau memberitahu aku jauh-jauh hari sebelumnya?"

"Karena engkau Nabi Allah, aku akan turuti permintaanmu itu.." jawab Malaikat Maut singkat.


Singkat cerita, setelah beberapa lama kemudian datanglah Malaikat Maut menjumpai sang nabi yang saat itu sedang lesehan melepaskan lelah, "Wahai Nabi Allah, sekaranglah saatnya aku ditugaskan Allah untuk menjemputmu!"
"Hai Malaikat Maut, lupakah engkau akan kesepakatan kita? Lupakah engkau akan janjimu? Bukankah engkau telah berjanji akan memberitahu aku terlebuh dahulu sebelum saat ini tiba, mengapa engkau ingkar janji?" Tanya Nabi dengan penuh keheranan "Sebenarnya aku tidak permah ingkar janji, aku juga tidak lupa akan kesepakatan kita, hanya engkau saja yang tidak menyadari."

"Maksudmu engkau telah memberitahu ku sebelumnya?" 
"Benar wahai Nabi Allah, bahkan aku berkali-kali memberitahumu dan memperingatkanmu."
"Kapan itu kau lakukan?" tanya Nabi penuh keheranan.

"Wahai Nabi Allah, bukankah sebulan yang lalu kau ikut memikul jenazah si fulan? Tidak sadarkah engkau bahwa saat itu akulah yang datang? Bukankah seminggu yang lalu kau ikut memandikan mayat si Polan? Tidak tahukah engkau bahwa saat itu akulah yang mengunjungi? Bukankah kemarin engkau ikut menshalatkan jenazah si anu? Lupakah engkau bahwa saat itu akulah yang bertamu? Bukankah tadi pagi engkau ikut menguburkan si dia? Masih belum tahu dan belum sadarkah engkau bahwa saat itu akulah yang menjemputnya?: Kalau semua itu belum cukup lalu dengan cara bagaimana lagi aku harus memberi tahumu?"

Jawab malaikat tidak kalah herannya....

0 komentar:

Posting Komentar