Senin, 18 Agustus 2014
Colours of Love Part 3
Intro :
Namun, sampai kapankah keintiman kami terjalin? Bersifat
temporer kah atau permanen? Apakah keintiman ini bisa disebut persahabatan atau
hanya kesemuan? Kita tak ada yang tahu begaimana kedepannya. Namun ada hal yang
harus digarisbawahi, didunia ini memang tak ada yang abadi. Kita lihat
kelanjutannya nanti yaa..
Ok. Lambat laun, Aku dan Sheila selalu bersama. Selalu
dan selalu berdua. Kami banyak menghabiskan waktu lebih banyak untuk berdua. Sheila
juga sering menginap dirumahku sehingga makin intimlah kami. Seiring berjalannya
waktu, berlanjut dengan hal percintaan ku dengan William yang sempat tak
menjadi hal yang terlalu penting bagiku seorang Ara yang memang selalu
menikmati hidupnya lebih bahagia dengan Sheila. Hmmmm..
Hubungan ku dengan William semakin membaik, karna William
pun sabar menanti dan sama sekali tak menyerah untuk tetap mendapatkan hati
seorang Ara. Hehe *ahmasasih? Wkwk dan kemudian sampailah pada titik aku
didekati Ita. Seorang perempuan yang selalu sekelas dengan ku tapi tak pernah
ku anggap keberadaannya haha terlebih memang dia dikelas selalu sibuk dengan handphone-nya sering telepan telepon
pacarnya yang selalu ada didunia maya hahahaha makanya banyak yang kurang respect terhadapnya. Ya begitulah
adanya. Dan keberadaan Sheila sedikit merenggang denganku, bukan karena aku
melupakannya tapi memang sepertinya Sheila lebih menjaga jarak denganku karena
aku mulai dekat dengan Ita.
Ita memang baik denganku, dia selalu mencuri
perhatianku dan selalu meyakinkan ku bahwa dia ingin menjadi teman terbaikku
*juga.. tapi sayangnya hal itu tak mungkin, karena Sheila ya tetap Sheila dan
akan selamanya seperti itu. Tak aka nada yang bisa menggeser keberadaannya
dihatiku. Tapi aku tetap berusaha menghargai Ita, dia juga lumayan pintar
dikelas. Jadi kenapa tidak? Kedekatan ku dengan Ita membuat Sheila merasa
seperti tak nyaman denganku. Ia lebih memilih sendiri ketimbang harus bertiga
bersamaku dan Ita. Waktu demi waktu berlalu, William pun sekali lagi
mengutarakan perasaanku secara langsung seusai pulang sekolah ditaman dekat
sekolah. Karena beberapa bulan belakangan aku lebih dekat dengan Ita, aku juga
sering pulang bareng dengannya. Dan pada saat itu, Ita juga ingin main
kerumahku, jadi sekalian pulang kearah yang sama.
Saat dia mengungkapkan dan kembali menanyakan
maukah aku menerimannya? Aku lama menjawab dan mulai memikirkan karena begitu
banyak usaha William untuk meluluhkanku, ok aku menerimanya. Menerima William
menjadi seorang yang bisa disebut pacar.
Tapi entah kenapa, setelah menerima William hati dan pikiran ku saat itu
langsung berontak, bergejolak seperti tak menerima akan kehadiran William
sebagai seorang yang bisa disebut pacar.
Sangking gejolak itu muncul, aku bertanya berulang kali kepada Ita “jadi
sekarang William pacarku?” ita
menjawab “iya” aku menanyakan kembali pertanyaan yang sama namun lebih banyak “Jadi
sekarang William pacarku? Jadi
sekarang aku pacar William? Jadi sekarang
aku tak boleh dekat-dekat dengan laki-laki lain lagi? Aku tak boleh dekat
dengan Adison lagi?” Ita langsung menjawab “iya. Iya. Iya.” Dan terakhir “iya”
lagi yang keluar dari mulut Ita.
“Oh my God.. aku tak suka ini.. Aku sangat nyaman
dengan aku bisa dekat dengan siapapun sesukaku termasuk Adison. Dan memang
nyatanya aku lebih nyaman dengan Adison daripada lelaki manapun disekolah” aku
mulai sedih disitu, dan mulai sedikit menyesal ditambah yang mendampingiku menerima
William bukanlah Sheila tapi Ita.
Yah inilah hidup. Terkadang hal yang tak mampu kita
pahami pun harus tetap kita jalani.. bagaimana kelanjutan hubungan percintaan
ku dengan William ya? Dan bagaimana reaksi Sheila setelah mendegar hal ini?
Apakah dia senang atau justru bersikap tidak mendukung? Nantikan
kelanjutannya..
*bersambung