Rabu, 21 Januari 2015
What about this? Aaaaaaaah fck-laaaah..
Hola semuahhh,
aku datang lagi nih.. hehe maklum, banyak waktu luang. :p
Hari ini aku
terasa benar-benar bad, pertama adalah aku tau kenyataan bahwa si def-def orang
terdekatku seperti tidak merespon aku. Terlebih dikampus, aku agak sedikit
kaget melihat def hadir diujian terakhir padahal diujian-ujian sebelumnya dia
tidak mengikuti. Dia datang tak sendiri saat itu, dia bersama teman yang jugak
sekaligus temanku tapi tidak dekat. Huuuh dan yang membuatku lebih kaget adalah
saat dia sama sekali tak menegur, menyapa saja pun tidak. Apalagi menegur.. Entah ada apa, seingatku kita tidak terlibat perdebatan atau
perselisihan yang krusial yang menyebabkan harus jaga jarak.
Tapi entahlah,
namanya jugak manusia. Kita tak tahu hati bukan? Barangkali apa yang menurutku
tak masalah berubah menjadi hal yang mengecewakan atau menyakiti orang lain.
Yah mungkin itulah kenyataannya atau mungkin bukan itu. Entahlah. Aku sedikit
merasa terpukul melihat reaksi def saat itu, tapi aku mencoba datar dan tak
memusingkan. Tapi apa daya, dia bukan orang yang jauh dan bukan orang yang ku
anggap biasa saja dalam porsi hidup aku selama ini. Dia jugak salah satu orang
yang termasuk kedalam orang yang ku anggap lebih dari biasa. Jadi mana mungkin
tak berefek atau aku tak memusingkan sikapnya yang seperti itu.
Oke beralih
dari situ, hal kedua yang benar-benar membuat ku bad adalah ayah ku sendiri.
Ya! Beliau ayah ku sendiri. Perih. Kecewa. Sakit. Sedih. Marah. Muak. Dan tak
menyangkaaaaaaaaaaaa. Aku mengetik ini dengan perasaan semuah itu, bercampur
menjadi satu. Hanya pertanyaan-pertanyaan menyedihkan yang terlintas dipikiran
ku mengenai ayah ku sendiri “bagaimana bisa ayah ku sendiri berucap sekasar
itu? Bagaimana bisa aku harus tahu kenyataan bahwa yang mengucapkan adalah ayah
ku sendiri? Bagaimana bisa ayah ku setega itu?” padahal ucapan-ucapannya sama
sekali tidak pernah terlintas dipikiran ku sama sekali :’)
Apapun yang
beliau katakan benar-benar diluar batas. Aku jadi berpikir, bagaimana ibu ku
bisa bertahan selama ini dengan ayah yang ucapannya terlalu sakit untuk
didengar, terlalu muak untuk tidak dilawan? Ah tapi aku mencoba berpikir ulang
kembali, ibu ku pun adalah seorang yang tak jauh sama kasarnya. Ibu ku pun
seorang yang benar-benar tidak bisa menjadi seorang yang penuh kelembutan. Aku
sama sekali bukan tak bersyukur dilahirkan dari dua makhluk lawan jenis itu.
Tapi mungkin inilah yang terbaik menurut-Nya untuk aku. Dan yang harus
diketahui, mereka melahirkan anak yang tidak menyukai ucapan kasar, dan bisa
disebut manusia tersensitif didunia ini. T.T dan mungkin kuatnya cinta ibu
kepada ku yang tak ingin menyandang broken home dalam keluarga ini jugak
menjadi salah satu alasan bertahannya ibu ku. Aaaaaaaaaa rasanya ingin teriak
sekali.
Yah. Inilah
hidup. Inilah realita. Inilah kenyataan, yang mau tak mau, dan terima atau
tidak harus tetap mau dan menerima. Aku hanya menekankan diriku untuk selalu
kuat, karna aku yakin Allah selalu bersama aku. Hati aku selalu meminta untuk
selalu Allah rangkul. Aku minta untuk jangan pernah lelah untuk bersama ku dan
memberikan ku kekuatan untuk menerima semuah kenyataan ini. Walaupun aku
bukanlah seorang yang selalu mendekatkan diri dan bahkan sering melalaikan Allah. Aku
selalu meminta untuk selalu memelihara ku dari rasa amarah terlebih beliau ayah
ku sendiri dan ibu ku sendiri. Tapi entah beberapa belakangan ini aku merasa
rapuh dan tak tahan lagi. Hiks..
Mungkin menjadi
salah satu kesalahan ku adalah tindakan ku, perilaku ku yang memang tak
menunjukan penuh kasih sayang terhadap mereka. Aku bukan penunjuk kasih sayang
yang ulung, dan ahli dalam membentuk berbagai sikap yang penuh cinta terhaap
orang tua ku. Entah mengapa? Tapi tak berarti aku tidak menyayangi dan
mengasihi mereka. Jauh dalam lubuk hati, aku memiliki kepekaan yang teramat
untuk mereka yang mungkin tak pernah terlihat bahkan oleh mereka sekalipun.
Memang yang selalu tahu hati manusia hanya Tuhan kan? Allah selalu tahu
segalanya. Everything!
Lagi-lagi
memang aku yang salah, harusnya tak menganggap seorang pun spesial termasuk
orang tua ku sendiri, maka ketika aku dikecewakan tak akan berefek dan
berdampak terhadap aku. Tapi aku pun manusia biasa, mempunyai nafsu dan
mempunyai hati untuk mempunyai rasa kasih sayang, rasa cinta terhadap siapapun
yang memang mempunyai porsi lebih dari sekedar biasa. Harusnya cuma Allah yang
ku anggap special.. aku yang salah
terkadang terlalu berpikir melalui perasaan ketimbang pikiran. Harusnya logika
ku selalu berjalan seiringan dengan perasaan agar selaras dan tidak
menitikberatkan hati dan kesensitifan.
Aku yang salah.
Dan aku memang salah. Sangking begitu sensitifnya aku, ucapan kasar dari orang-orang lainpun tidak bisa membuat ku kuat.
Setiap ucapan orang lain yang menurut ku kasar tetap menjadi hal yang
mengecewakan buat ku. Padahal seharusnya sudah menjadi hal yang biasa bukan,
mengingat ucapan ayah ku saja kasarnya luar biasa?
Oh hari yang
buruk yang semoga sekaligus memberikan ku kekuatan, aku akan tetap menjadi
seorang ayu rustiani. Dan akan selalu seperti itu. Semoga apapun yang menjadi
kelemahan ku menjadi hal yang bisa ku ubah ke-hal positif dan mendorongku untuk
berubah lebih baik sehingga tidak merugikan orang lain dan menjadi kelebihan
yang tak orang lain punya..
Terimakasih
untuk hari ini ya Allah.