#navbar-iframe{opacity:0.0;filter:alpha(Opacity=0)} #navbar-iframe:hover{opacity:1.0;filter:alpha(Opacity=100, FinishedOpacity=100)}

Rabu, 19 November 2014

Drama is Action!



Assalamualaikum wr wb.

19 November 2014
Pk. 08.04
Hari ini aku gatau, rasanya mau kesel, marah, emosi, semuahlah campur aduk.
Sebelumnya aku pengen dahului duluk soal gimana titik mulanya, aku seorang ayu rustiani pernah bekerja disebuah perusahaan badan pemerintah sebut saja “BENG” disitu aku bekerja sebagai Administrasi dan sekaligus merangkap sebagai Sekretaris dimana status aku masih honorer. Soal penghasilan bisa dibilang jauh dari kata banyak dari kebanyakan. Tapi so far, selama ini yaa atasan aku banyak membantu dan aku mengganggap itu semuah sebagai hal yang lumrah karna besaran penghasilan yang diterima ga banyak dan aku disini sebagai pemain tunggal dalam hal Administratif dan Sekretaris dimana duluknya itu dipegang sama 2 orang yang berbeda. Yaa aku gatau ya, bisa bermula dari apa, yang jelas disini aku berusaha untuk selalu professional dan akan menghindar semampu yang aku bisa dari hal-hal yang bisa dibilang itu adalah ketidakwajaran. Aku berusaha selalu positif thinking about his kindness-lah.. Tapi aku disini tetap menganggap beliau itu adalah atasan aku dan ga lebih,  kalaupun ada porsi lebih itu adalah sebagai seorang Ayah yang berpenghasilan cukup baik.

Enough! Sudah aku harus mikirin sendirian gimana soal cari uang, kuliah, mikirin orang tua, terlebih lagi mikirin qeis dan yang paling krodit adalah selalu berusaha bersikap professional serta menghindari segala bentuk-bentuk yang rasanya memang tidak wajar dilakukan sebagai seorang atasan kepada bawahannya ditempat aku bekerja.

Ok next, semalam ditanggal 19 November 2014 aku bertemu qeis. Sama dengan malam-malam sebelumnya, kami selalu happy, bersendau gurau dan banyak hal yang bisa kita sharing. Saat itu aku bertemu qeis dan dia langsung bilang kalau dia lapar, maka kita memutuskan untuk makan diluar. Setelah makan, entah kenapa dimalam yang sama-pun aku lalu menceritakan hal yang sebenarnya aku tutup dari qeis. Jujur aku sudah ingin bilang dari awal aku pernah diperlakukan seperti ini. Aku sudah sering bilang dan mengeluh soal ingin pindah pekerjaan walaupun alasanku tak nampak begitu jelas dan sepertinya tidak diterima oleh qeis kalau aku ingin meninggalkan pekerjaan disini. Tapi kadang berulang kali ingin aku berusaha keluar semampu yang ku bisa, tapi qeis yang berusaha seperti agak menahan. Yaa mungkin karna dia tak tau soal alasan lain ku ini, yang bisa dibilang sudah tak wajar. 

Setelah ceritaku tentang ini selesai, qeis berubah kondisi, perilaku, serta sikap. Aku mencoba tetap meyakinkan bahwa dia baik-baik aja. Walaupun aku tau nyatanya adalah berbanding terbalik. :’)

Rentang waktu berjalan dan berlalu, dan malam mulai kian larut. Aku memutuskan untuk pulang sendiri tanpa qeis dengan naik taxi. Karena aku rasa pun percuma kalau aku tetap dikondisi yang sama, dan gabisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan mood qeis serta ga merubah keadaan yang ada. Setelah ingin sampai rumah sekitar jam 11-an, ucapan qeis yang terdengar terakhir kali lewat telepon adalah memberikan pilihan, aku kembali kedia kalau aku menghargai dia, kalau aku tetap pulang dan begitu saja langsung tidur silakan dan mengejudge aku tidak menghargai dia. Ok, aku berusaha meredam semuah, dan aku kembali pada jalan daerah yang kembali keposisi qeis dan bertemu lagi. Setelah itu, kita tak banyak ucap. Beberapa detik kemudian, qeis memutuskan untuk mengantarku pulang. Oh my God! 

Dengan tanpa sepatah kata pun dimotor, kami membisu dan sama sekali tak ada kehangatan disana. Sampai pada saat itu tiba, tak jauh dari sekolah SMA ku qeis memberhentikan motor dekat dengan area taman yang bernuansa gelap sepi karna jalanan itu termasuk jalanan komplek. Ia meminta ku turun dari motor dan lalu menyuruhku duduk untuk membahas lagi sikap ku yang dia anggap tak menghargainya dan meninggalkannya.

Aku tak ingin berdebat awalnya sampai akhirnya harus ribut hebat (bisa dibilang hebat karna kali pertamanya kita seperti drama begini dijalanan dan kita pun saling keukeuh atas pendirian masing-masing). Diawali dengan …………………………………..
Q : “kenapa km kek gini?”
A : “kek gini gimana?”
Q : “km masih tanya? Kenapa km ninggalin aku? Km bukan baru sekali lakuin ini. Sudah 3 kali”
A : “hah? 3 kali? Aku baru sekali lakuin ini.”
Q : “sekali km pergi gitu aja diacaranya wahyu sama devi. Kedua, yang km jugak mencoba pulang sendiri, untungnya aja ketemu dibinus. Makanya km mau gamau aku antar. Dan yang ketiga kalinya, beneran dilakuin sekarang. Kenapa km lakuin lagi hah?”
A : ……… (diam)
Q : “km gamau jawab aku? Aku nanya.”
A : ………. (diam)
Q : “km beneran gamau jawab aku?”
A : “yaa intinya kalo km lagi diam begitu, aku cuma gamau memperkeruh aja dengan aku ada dideket km terus”
Q : “gamau memperkeruh? Ini namanya tambah memperkeruh. Menurut km dengan km kek gini namanya ga memperkeruh?”
A : ………. (diam)
Q : “jawab aku.”
A : ………. (diam)
Q : “aku tuh ngomong sama siapa sih? Aku tuh lagi ngomong sama km. Tapi km belakangin terus gini?”
A : ………. (diam)
Q : “jawab”
A : “iya buat km memperkeruh, buat aku engga.”
Q : “buat km engga? Km kan tau aku ga suka diginiin dan km tetap lakuin. Apa bisa dibilang tambah ga memperkeruh?”
A : “hhhh…”
Q : “terus aku mau lihat hp km.”
A : “buat apa?”
Q : “mana? Aku mau lihat.”
A : (kasih hp)
Q : langsung menuju tampilan bbm, dan tanya “kenapa km hapus bbm dari dia? (nunjukin profil atasan aku) ini chat baru lagi, belum lama hari ini.”
A : “yaa ga penting”
Q : “kenapa diend chat segala? Pokoknya mulai sekarang km gaboleh hapus atau end chat, aku pengen lihat”
A : “yaa kalo ga penting buat apa? Lagian memang aku suka gitu kok, kalo ga penting ya dihapus.”
Q : “yaa mulai sekarang, aku minta km gaboleh hapus atau end chat dari dia sebelum aku baca duluk.”
A : ……… (diam)
Q : “dan aku sudah mutusin buat tlp mamah buat bilangin soal ini dan diaduin kepapah, supaya papah bisa bilangin atasan km supaya ga kek gini.”
A : “hah? Apa? Gausah! Jangan.. please jangan. Nanti aku diomelin sama papah.”
Q : “yaa diomelin sehari kok. Aku gabisa ngamuk kekantor km, tapi kalo papah pasti bisa.”
A : “jangan qeis, please jangaaaaan.”
Q : “maaf aku gabisa, kali ini aku tetap sama pendirian aku. Sekali A tetap A.”
A : (kalo bisa nangis berdarah gue pasti nangis berdarah nih saat ini jugak, gue diem aja sambil terus memohon dan merengek)
Q : “cowok itu gamau ada yang rugi. Aku tuh sudah curiga karna atasan km baik banget kekm. Dia kek gitu pasti ada maunya.”
A : “maksud?”
Q : “iya cowok pasti kalo baik ya ada maunya. Aku jugak gitu kok. Aku baik sama km, dan aku mau km jadi istri aku, aku mau km mau jadi pacar aku. Yakan?”
A : “tapi kan ga pernah kejadian”
Q :  “aku tanya, sudah berapa kali km diginiin?”
A : “….. 2 3 kali”
Q : “dan ga pernah berhasil?”
A : “ga pernah. Aku selalu menghindar dan marah.”
Q : “km sudah diapain aja?”
A : “ga pernah diapa-apain. Yaa cuma berusaha kek gitu, c*** (skip) aja.”
Q : “sumpah demi apa km belum pernah ngapa-ngapain?”
A : “demi Allah”
Q : “demi apa?”
A : “demi Allah..”
Q : “kalo gitu, aku mau bbm atasan km”
A : “bbm apa?”
Q : “yaa intinya supaya dia ngehargain km”
A : “gausah. Toh kan akunya ga kenapa-kenapa. Aku jugak masih bisa menghindar”
Q  : “iya sekarang ga kenapa-kenapa. Nanti? Toh dia aja sudah coba berapa kali kan? Ini sudah kesekian kalinya kan?”
A : “yaa tapi kan ga pernah kelakuin”
Q : “terus kalo km diajak ketempat yang jauh dan km gabisa kemana-mana dan gabisa ngapa-ngapain gimana?”
A : “yaa engga mungkin aku mau ikutlah kalo jauh.”
Q : “iya kalo km tau. Kalo dia bilangnya mau ngajak km makan tapi dibawa yang jauh? Gimana?”
A : ……… (diam)
Q : “mana hp km?”
A : (kasih hp)
Q : “aku bawa sehari dan km bawa oppo”
A : “engga. Aku gabisa bawa hp yang lain kecuali yang itu.”
Q : “yaa kalo gitu bilang aja ga bawa hp”
A : “engga. Sini hp aku.”
Q : “kenapa? Kenapa gaboleh? Kalo alasannya karna kantor, hp aku aja km sita selama seminggu dan itu jugak berkenaan sama kantor”
A : “itu penting.”
Q : “apanya yang penting?”
A : “pokoknya penting”
Q : “iya apa? Apa yang penting? Km aja gabisa jawab.”
A : “semuahnya”
Q : “ok, ini aku kembaliin. Tapi soal nlp dan kasihtau mamah papah tetap aku lakuin”
A : “jangan. Nanti aku diomelin sama papah.”
Q : “km lebih takut diomelin daripada nanti diapa-apain?”
A : “nanti papahku bukan cuma marah dikantor. Tapi sama aku jugak.”
Q : “km salah ga?”
A : “engga.”
Q : “yaudah. Kenapa harus takut? Diomelin paling cuma sehari.”
A : “engga.. jangan. (memohon-mohon)”
Q : “yaudah pokoknya, aku tetap nlp mamah papah. aku kek gini karna buat ngejagain km, ngebelain keluarga km.”
A : “iyaa. Tapi biar gimana pun dia jugak sudah baik sama aku.”
Q : “kok km belain dia?”
A : “bukan gitu.
Q : “terus?”
A : “toh aku ga kenapa-kenapa.”
Q : “maaf, aku gabisa. Aku tetap akan hubungi mamah dan papah.”
A : “aku jugak sudah selalu bilang mamah (sedikit meninggi lalu menangis)”
Q : “terus tanggapan mamah apa? Mamah bilang apa?”
A : ………. (diam dan terus menangis)
Q : “km ga mau jawab aku? Mamah bilang apa?”
A : ………. (diam dan terus menangis)
Q : “gamau jawab?”
A : “yaa ga bilang apa-apa”
Q : “masa ga bilang apa-apa?”
A : “cuma ngomong yaudah professional aja dan kalo diajak berdua jangan mau”
Q : “terus kenapa km masih mau?”
A : “yaa aku fikir cuma makan”
Q : “tapi makan diluar kan? Dan yang buat aku marah lagi adalah kenapa km ga bilang kalo km mau makan keluar sama atasan km?”
A : “tapi kan cuma makan. Iya orang cuma makan.”
Q : “yaa pokoknya km keluar dan km ga bilang.”
A : “orang cuma makan.”
Q : “iya makan terus ciuman?”
A : (stuck. Ga nyangka ternyata ucapan qeis pahit banget. Padahal aku ga ngelakuin apa-apa dan dia bisa bilang gitu)
Q : (sempet diam dan mungkin dia berasak jugak kalo agak kasar ucapan barusan)
A : ………. (diam)
Q : “yaudah ayo pulang. Sudah malam”
A : (masih mohon-mohon kek orang hina dan ga ada harga dirinya)
Q : “yaudah ayo pulang.. nanti mamah khawatir.”
A : ……. (diam)
Q : “ayo cepet naik (sambil megangin tangan aba-aba buat naik kemotor)
A : …… (diam, bungkam, tanpa suara)
Q : (melihat sekeliling) “ayo cepet yang, kita pulang..”
A : …….. (masih terpaku diam)
Q : “oh jadi km gamau pulang bareng aku? Gamau ngehargain aku lagi?”
A : …….. (masih dengan ekspresi dan sikap yang sama)
Q : “ayo ah pulang yang.. (sambil agak narik tangan aku buat naik kemotor)”
A : (coba lepasin tangan dan jalan) “tau ah.. aku mau pulang, aku capek.”
Q : “ayo yang pulang bareng aku”
A : (tetap jalan)
Q : “yang.. sudah malam. Disini gelap, sepi..”
A : (diam dan terus jalan)
Q : “yang ayo naik.. kita pulang bareng. Jangan kek gini.”
A : (terus jalan)

Setelah sekitar 10 atau 15 menitan tetap dalam kondisi yang sama.. begitu terus sampai akhirnya qeis turun dari motor dan mengejar langkah kaki aku.
Q : (ngeraih tangan aku) “sayang, ayo pulang. Naik kemotor.”
A : “gamau.. lepasin tangan aku”

Terjadilah adegan tarik menarik tangan dan aku tetap berusaha mencoba melepaskan diri. Sampai ada beberapa pihak-pihak security menghampiri kami dan menanyakan apa yang terjadi.

Security 1 : “ada apa ini?”
Q : “ga ada apa-apa kok Pak. Biasa anak muda”
Security 1 : “yaudah lebih baik antarkan pulang”
Security 2 : “Selesaikan dirumah. Sudah malam, nanti dikira terjadi apa-apa”
Q : “iya Pak, makanya ini mau saya antar pulang kok. Ayo sayang, kita pulang ya”
A : “yaudah aku mau pulang, lepasin aku. Nanti malah tambah malam.”
Q : “pulang bareng aku yang”
A : “gamau, aku bisa pulang sendiri”
Security 1 : “rumahnya dimana memang?”
Q : “dimampang Pak”
Security 2 : “sudah ga ada angkot neng”
 A : (terus saja berjalan)

Qeis yang masih sedang menanyakan atau membicarakan satu hal masih bersama beberapa security tersebut dan lalu menyusulku kembali.
Malam semakin larut dan mulai kearah jam 1 pagi.

Q : “yang, disini gelap sepi jugak. Aku khawatir”
A : (diam dan dalam hati berucap “gue ga takut! Lo fikir gue takut sama gelap? Engga! Gue malah suka..”)
Q : “yang, jangan kek gini dong..”
A : (terus saja berjalan sampai mulai merasa kelelahan)
Q : “yang, km capek tuh. Ayo sayang naik, kita pulang..”
A : (pokoknya aku tetap jalan sampai nemu taxi)
Q : “yang, ini aku lawan arah loh..”
A : (tetap berlalu jalan)

Sampai akhirnya aku ga mendengar lagi seperti diikuti qeis. Tak lama ketemu taxi kosong aku langsung naik dan ternyata qeis bukan berhenti mengikuti tapi mengikuti dengan jalan kaki. Tak jauh beberapa meter aku melihatnya, tapi aku seolah tak ingin melihatnya dari kaca taxi. Aku pun berlalu dengan taxi.

Sesampai dirumah~~~

Benar-benar drama bukan?
Baru kali ini aku bersikap seperti hal ini.
Benar-benar memalukan.
Rasanya benar-benar sangat ingin marah.. tapi nyatanya aku hanya bisa berontak dan bermain dalam alam pikirian ku sendiri sampai semuah tertuang disinih kembali.
Memory akan hal ini ga akan pernah terlupa lah..
Bak drama roman picisan anak-anak SMA.
Tapi keesokannya aku berusaha menjalani hidup.
Seperti biasa dan layaknya orang-orang normal biasa yang melakukan rutinitas.
Meskipun harus menelan semuahnya dengan rasa sesak yang ingin meluapkan kemarahan yang entah dengan siapa dan untuk apa. 

Untuk penghujung, aku hanya ingin bilang
“ Qeis, terimakasih.. terimakasih banyak.. terimakasih atas drama yang telah kau scenario-kan. Terimakasih atas semua omelan dan bentakannya. Terimakasih atas semua kekeraskepalaan-mu. Terimakasih atas kepedulian yang membuatku salah bersikap. Terimakasih atas semuah segala interogasi-mu yang membuatku sulit bernafas. Terimakasih dan sekali lagi aku sangat berterimakasih. Aku minta maaf atas segala khilaf. Aku hanya manusia yang bergender perempuan yang sering melakukan salah, memiliki banyak cacat dan kekurangan serta paling banyak melakukan dosa. Tapi satu hal yang pasti dan selalu pasti “Aku menyayangimu.. bagaimanapun kamu dan rupamu. Seperti apapun sikap dan sifat burukmu. Aku akan tetap menyayangimu dengan segala kekuranganku” ”

Wasalamualaikum wr wb.

0 komentar:

Posting Komentar