"Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah diladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan
disisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga). (Ali Imraan;14)
Semua orang merindukan kebahagiaan, semua
orang memburunya namun ternyata banyak yang kecewa, usahanya sia-sia,
kegelisahan dan duka lara semakin membelitnya. Sebenarnya apa sih kebahagiaan
itu? Bagi kebanyakan orang bahagia adalah tercapainya cita-cita, hidup sukses,
kaya raya, popular, dan sebagainyaaa. Materi dan uang pun tidak segan-segan
untuk memburu harta dengan berbagai cara seperti korupsi, menipu, menyogok, dan
sebagainya. Karena ingin dapat wanita cantik berbagai cara dilakukan. Namun ternyata
setelah diperoleh masih tidak puas dan kecewa. Karena ingin populer orang
menjual harga diri dan kehormatannya. Kebahagiaan duniawi seperti ini bersifat
semu dan menipu, didasari hawa nafsu (syahwat) yang tidak pernah puas dalam
mengerjar sesuatu.
Sebab-sebab tidak
bahagia?
Setidaknya ada empat pemikiran dan paradigma
yang salah terhadap kebahagiaan yang tentu saja harus kita hindari.
Pertama, Pikiran yang dipenuhi oleh
keinginan terhadap benda-benda yang dianggap membahagiakan. Ingin punya rumah
mewah ditempat strategis, ingin punya mobil yang paling baru, ingin punya benda
ini, ingin punya alat itu. Alasannya karena gengsi, untuk life style (gaya
hidup). Artinya, tentu akan berpusat pada sesuatu yang diinginkan (syahwat). Sedangkan
apa-apa yang telah dimiliki dilupakan. Jika ini kuat tertanam dalam jiwa maka
tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati.
Kedua, Percaya bahwa bahagia bila telah
menjadi sesuatu sesuai dengan cita-citanya. Seperti orang yang berkata dalam
hatinya “Saya bahagia kalau sudah menjadi direktur” ternyata ketika posisi ini
telah diperoleh, hatinya berkata lagi “Aku bahagia jika telah mempunyai
perusahaan” kerja keras lagi sampai memiliki perusahaan. Setelah itu dia
berpikir lagi “Aku akan bahagia kalau memiliki perusahaan ini, perusahaan itu,
untuk melengkapi atau menunjang perusahaanku.” Dibalik itu dia merasa cemas,
takut bangkrut, takut kehilangan dan sebagainya. Seperti itu pula orang yang
mengatakan “Saya akan bahagia bila anak saya telah menjadi sarjana”, “Saya bahagia
bila menjadi Gubernur”, dan seterusnya.
Ketiga, Selalu membanding-bandingkan diri
sendiri dengan orang lain. Melihat keorang yang lebih beruntung (dalam
pandangan diri sendiri) dengan merasa kesal terhadap apa yang diperoleh. Ketika
mendapat yang kecil merasa kesal dengan orang yang mendapat lebih besar. Jika ada
orang yang berhasil dalam usahanya, akan menganggap diri sendiri gagal. Melihat
orang dengan persaingan selalu memunculkan iri dengki, yaitu kesal terhadap
orang lain yang lebih sukses secara materi dan menginginkan apa yang diperoleh
orang lain itu menjadi lenyap atau menjadi milik sendiri.
Dan terakhir, Percaya kebahagiaan akan
datang jika berhasil mengubah situasi yang ada disekitar meskipun yang
diinginkan adalah hal-hal yang baik. Amat sulit untuk mengubah orang lain dan
lebih sulit lagi memasukkan kehendak diri sendiri kepada orang lain. Silakan berusaha
mengubah orang lain namun ketika tidak berhasil janganlah merasa sedih. Membuat
manusia berubah bukanlah urusan kita. Yang paling penting dan menjadi urusan
kita adalah mengubah diri sendiri.
Dalam meraih kebahagiaan, modal utama
adalah taqwa. Sebagimana firman Allah SWT Katakanlah
: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”.
Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga
yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka
dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha
Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imran;15)
Kebahagiaan Rahmat
Allah
Kebahagiaan tidak lain adalah limpahan
karunia Allah yang disebut rahmat (kasih sayang), bukan merupakan sebuah hasil
usaha semata. Dilimpahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Seperti masuknya
hamba-hamba yang sholeh kedalam surga bukanlah dikarenakan amalan mereka semata
melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
Amal seseorang tidak dapat menyelamatkannya. Seorang sahabat lantas bertanya
tentang sabda tersebut
“Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?”
Rasulullah lalu menjawab “Ya, aku juga, kecuali dikaruniai Allah dengan
rahmat-Nya. Walaupun demikian kamu harus berbuat yang benar (baik)”. (HR.
Bukhari Muslim)
Manusia diberikan kebebasan memilih,
jalan kebahagiaan atau kesengsaraan. Tapi seluruh usaha manusia –mau tidak
mau- terikat dalam sebuah ketetapan pasti yaitu Takdir Allah. Takdir adalah
kehendak Allah dan menjadi hak mutlak Allah. Manusia hanya berusaha, melakukan
amalan, berikhtiar, dan bekerja, hasilnya terserah Allah. Kita harus mengimani
takdir apapun yang terjadi. Namun dalam nuansa ikhtiar kita harus tetap
berusaha. Jika dua hal ini dipadukan, insyaAllah Allah akan memberikan
kemudahan untuk meraih rahmat_nya. Ada dua keyword disini : takdir dan usaha. Keduanya
tidak bisa terpisahkan. Dan keduanya bisa menjadi pemicu terwujudnya gelombang
kebahagiaan.
Dengan meyakini takdir, seorang hamba
akan memiliki ketabahan, terutama disaat harus menerima musibah secara
bertubi-tubi atau disaat menghadapi ancaman terhadap ketenteraman hidupnya. Ketabahan
itulah yang akan muncul melalui proses keimanan yang bertarung melawan bujuk
rayu nafsu, melawan tekanan keadaan, untuk kemudian keluar sebagai pemenang,
dan mendapatkan karunia petunjuk Allah. Allah berfirman “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan
izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya DIa akan memberi
petunjuk kepada hatinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…” (Ath
Thaghabun:11)
Hati yang mendapatkan petunjuk niscaya
memancarkan cahaya pasrah, menyingkirkan nafsu amarah, menepis rasa kesal dan
kecewa sehingga lahirlah kebahagiaan itu. Disisi lain, keyakinan kepada takdir,
dan mempunyai nuansa kesegaran berpikir, karena dasar keyakinan bahwa Allah
akan memberikan pahala bagi orang-orang yang tabah dan sabar.
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka
karena ketabahan mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera….” ( Al Insan:12)
Ikhtiar (Usaha) yaitu usaha yang baik
atau amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin. Usaha apapun yang dilakukan
dengan ikhlas akan memiliki nilai sakral dan berpahala disisi Allah. Setiap amal,
apapun bentuknya ditentukan oleh ruh keikhlasan dan peneladanan terhadap
manusia terbaik, Rasulullah SAW yang terdapat didalamnya. Dua kandungan itu,
bagaikan nyawa dan kekuatan. Membuat usaha yang dilakukan oleh seorang mukmin
berpengaruh positif konstruktif, menekan jauh kelubuk jiwa memberi kepuasan yang
tiada tara. Tidak peduli, apakah usaha menampakkan hasil atau belum. Dalam hal
ini, usaha apapun yang dilakukan seorang muslim tak lepas dari bingkai Ibadah,
atau penghambaan diri kepada Allah. Semakin hebat usaha yang dilakukan, semakin
meningkat kualitas kehambaannya.
Bersyukurlah Agar
Bahagia
Kebahagiaan itu lebih sering muncul
setiap kali seorang muslim selesai melakukan pekerjaan. Disebut dengan kata
lebih sering muncul karena selesai atau tidak suatu pekerjaan, berhasil atau
tidak suatu usaha, tidak akan mempengaruhi kebahagiaan yang bakal didapat oleh seorang
muslim. Disaat gagal berusaha, seorang muslim tetaplah berbahagia, karena
pengaruh mutiara kesabaran yang tertanam kuat dalam jiwanya. Disaat berhasil,
ia akan memperoleh kebahagiaan lebih karena rasa syukurnya yang besar. Itulah keajaiban
seorang mukmin..
“Sungguh ajaib sikap seorang mukmin! Karena
segala sesuatunya baik baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin
saja. Apabila ia mendapat kesenangan, ia bersyukur. Itu menjadi kebaikan
baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, ia tetap tabah, maka itupun menjadi
kebaikan baginya.” (HR Muslim)
Jadi kebahagiaan itu lebih mudah diraih
manakala kita menjalankan pekerjaan. Adapun rasa bersyukur yang diungkapkan
menjadikan pekerjaan bernilai lebih. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk
ceria setiap saat. Beliau mengatakan, Janganlah engkau remehkan kebaikan itu
meskipun hanya menjumpai saudaramu dengan wajah yang cerah menyenangkan. (HR
Muslim). Senyummu kepada saudaramu (masobih assunnah). Perkataan yang baik
adalah sedekah. (Alhadits)
Senyum, berwajah ceria dan berkata baik
adalah membiasakan diri bahagia, dengan menanamkan dalam diri berpikir positif
dan mensyukuri yang ada.. memang secara umum, rasa syukur itu lebih mudah
dilakukan tapi sedikit yang mau mengerjakannya. Yang sulit adalah tetap sabar
saat terjadi musibah. Disebutkan dalam hadits, “Sesungguhnya, ketabahan yang
sejati itu ada pada guncangan pertama kali ketika terjadinya musibah.” (HR
Bukhari).
Rasa syukur akan memberikan nilai lebih,
terhadap penyegaran hati dan ketentraman jiwa. Dari situlah, sebuah karunia
akan semakin terasa kenikmatannya. Sebagimana realitas kehidupan, kebahagiaan
biasa hadir disaat seorang hamba mengakhiri ibadah puasanya selepas maghrib. Kehadirannya
bagaikan kebahagiaan utama yang luar biasa nikmatnya.
“Orang yang melaksanakan Ibadah puasa,
memiliki dua kebahagiaan, yang pasti akan dirasakannya: Saat berbuka, ia
berbahagia karena selesai berpuasa. Saat berjumpa dengan Allah, ia berbahagia
karena Ibadah puasanya.” (HR Bukhari).
0 komentar:
Posting Komentar