Kamis, 19 September 2013
12 Tahun Sephia: Kisah Klasik untuk Kekasih Gelap
Kekuatan Sephia adalah
berhasil mengubah dirinya menjadi sebuah representasi para kekasih gelap.
“Parah ini lagu…”
Ucapan Bimbim, drummer Slank, dalam
sebuah wawancara televisi beberapa tahun silam mengejutkan saya. Bagaimana
motor dari salah satu icon rock n roll Indonesia itu mengakui
muatan-muatan berbahaya yang ada di tiap-tiap bait lagu berjudul Sephia milik
Sheila On 7. Sekali lagi Sheila On 7.
Dua belas tahun silam, tepatnya 29
September 2000, Sheila On 7 merilis album keduanya. Kisah Klasik Untuk Masa
Depan. Catatan penjualan yang masih perlu diperdebatkan, ya ini PR besar
industri musik Indonesia, menyebut angka 1,7 juta kopi. Angka ini sekaligus
menghapus kutukan sindrom album kedua yang acap ditemui di band-band baru yang
mereguk angka penjualan manis di album pertama.
Tapi hal itu bukanlah satu-satunya yang
membuat album ini perlu mendapat kredit khusus. Diantara lagu-lagu hits seperti
Bila Kau Tak Disampingku, Sahabat Sejati juga Sebuah Kisah Klasik, terselip
nomor berdurasi nyaris lima menit berjudul Sephia. Durasi yang sulit ditemui di
lagu-lagu pop yang tumbuh di era RBT dewasa ini. Berikut liriknya
Hey Sephia
Mala mini ku takkan datang
Mencoba tuk berpaling saying
Dari cintamu
Hey Sephia
Malam ini ku takkan pulang
Tak usah kau mencari aku
Demi cintamu
Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi
Selamat tidur kekasih gelapku (o… Sephia)
Semoga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu
Takkan pernah sanggup untuk melupakanmu
Selamat tinggal kasih tak terungkap (o… Sephia)
Semoga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu
Takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu
Hey Sephia
Jangan pernah panggil namaku
Bila kita bertemu lagi dilain hari
Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi
Seno Gumira
menyebut kisah Sephia sebagai kisah cinta segitiga yang lumayan seru. Kekasih Sejati mencintai
Sephia, Sephia mencintai Aku, dan Aku telah memutuskan meninggalkannya.
Meminjam teori cinta milik Erich Fromm, Seno menyebut cinta Aku ini lebih
dewasa daripada cinta Sephia karena Aku tidak memberi sebagai pengorbanan.
Pelabelan kekasih
gelap pada Sephia berhasil membuatnya menjadi icon. Menjadi
representasi para kekasih gelap. Eross Candra sebagai pencipta lagu mengubah
Sephia selaku subyek menjadi obyek. Sephia adalah tindakan dalam hubungan gelap
percintaan. Para kekasih gelap menemukan identitasnya yang telah lama
tertutupi.
Sephia lalu
menjadi sosok tak terpisahkan dari Sheila On 7, mengalahkan nama-nama
lain yang ada dalam diskografi band tersebut seperti Rani, Niah, Khaylila
ataupun yang terakhir Ibu Linda. Formula lagu hubungan gelap dengan set waktu
malam hari beserta bumbu aura misterius didalamnya membuat Sephia menjadi
popular. Eross seperti paham karakter perilaku manusia selaku makhluk sosial.
Psikolog
Melvin. H Marx menyebut motif ingin tahu (curiousity) sebagai salah satu
kebutuhan organis manusia. Hubungan gelap seperti kisah Sephia selalu
memunculkan kecurigaan yang memancing rasa ingin tahu. Latar waktu malam hari
lewat nukilan lirik malam ini kutakkan datang dan malam ini kutakkan
pulang menambah teka-teki itu.
Terlebih
lagi, lagu ini diselimuti kabut misteri tentang siapa sebetulnya sosok
Sephia. Ada yang menyebut Sephia adalah sosok dalam kisah cinta Eross. Bahkan
santer juga terdengar jika Sephia sebetulnya adalah sosok makhluk ghaib yang
menghubungi Eross lewat telepon untuk dibuatkan lagu.
Dalam
situasi seperti ini, lanjut Melvin, orang cenderung tidak sabar dalam suasana
ambigu dan tidak menentu. Mereka kemudian sibuk mencari-cari jawaban sendiri.
Sama seperti yang dialami oleh Sephia. Orang dipenuhi rasa ingin tahu siapa
sebetulnya Sephia dan bagaimana akhir dari petualangan cintanya.
Kisah
Sephia juga tidak bisa dilepaskan dari aspek sosial dalam penciptaan lagu
tersebut. Sebagai salah satu produk media, Sephia tidaklah berada dalam
ruang hampa. Sephia berkaitan erat dengan latar belakang personal Eross sebagai
pencipta lagu hingga kondisi sosio-politik Indonesia saat itu.
Meski penuh
aura gelap-gelapan, Eross dengan frontal menggambarkan Sephia sebagai kekasih
gelap. Mengejutkan mengingat latar belakang sosio kultural Eross sebagai
pria yang tumbuh besar di Yogyakarta, daerah yang disebut-sebut sebagai
poros nilai dan norma budaya Jawa. Saat itu dia baru berusia 21 tahun dan
masih bujang. Masih masuk kategori joko, sinoman atau anak muda. Jika
merujuk pada penjelasan Hilderd Geertz tentang keluarga Jawa maka tindak-tindak
Eross lewat Sephia tentu membuat dirinya dicap sebagai durung Jowo atau
belum Jawa. Keluarga Jawa mengharapkan anaknya jadi penurut, sopan serta pandai
mengendalikan diri.
Dalam ranah
yang lebih luas lagi, lagu ini hadir saat Indonesia masih menikmati euforia
reformasi 1998. Karena kebebasan media mulai dibuka dengan dibubarkannya
Departemen Penerangan. Jika lagu ini hadir saat rezim Orde Baru masih berkuasa,
boleh jadi Eross harus merasakan gunting sensor yang terkenal tanpa ampun namun
standarnya tidak jelas. Betharia Sonata dan Obbie Mesakh misalnya, pernah
kena cekal karena lagu-lagunya yang dianggap cengeng dan penuh keputusasaan. Kata-kata
kekasih gelap bisa jadi dianggap Harmoko tidak sesuai dengan kepribadian
bangsa. Pendeknya, momentum lagu ini tepat.
Inilah yang
membuat Sephia hingga sekarang tetap berbeda dengan lagu-lagu bertema
perselingkuhan yang kini menjadi semacam lagu wajib untuk musisi-musisi arus
utama. Mungkin hampir semua musisi-musisi sekarang menampilkan tema
perselingkuhan sebagai materi andalan.
Band-band
pop seperti Ungu, ST12 sampai band-band medioker sekelas Govinda dengan vulgar
menjejalkan kata-kata seperti kekasih gelapku, selingkuh, atau simpanan.
Ya, itulah tren. Suatu kewajaran dalam industri musik. Tapi sepertinya
mereka lupa prinsip tak tertulis dalam hubungan gelap. Jangan bilang
siapa-siapa. Ooo..o..kamu ketahuan!
0 komentar:
Posting Komentar