Sabtu, 22 Februari 2014
FENOMENA BAHASA INDONESIA DIDAERAH PERBATASAN
KATA
PENGANTAR
Puji
dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini
tepat pada waktunya. Walaupun hasilnya masih jauh dari apa yang menjadi harapan
pembimbing. Namun sebagai awal pembelajaran dan agar menambah spirit dalam
mencari pengetahuan yang luas. Makalah ini membahas tentang Fenomena Bahasa
Indonesia Di Daerah Perbatasan.
Dalam
penyusunan makalah ini, saya banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari
berbagai pihak tantangan tersebut bisa teratasi. Oleh karena itu, saya ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, terutama untuk Dosen Bahasa Indonesia
saya yaitu Bapak Dadi Waras Suhardjono dan tidak lupa rekan-rekan yang lainnya.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat kepada kita sekalian.
Jakarta, Juni 2013
Penulis
ABSTRAK
Pengamatan
Mengenai Fenomena Bahasa Indonesia Di Daerah Perbatasan.
Nama
: blablabla
NIM : 4xxxxxxxxxxxxxxxxx
Makalah tentang “Fenomena Bahasa Indonesia Di
Daerah Perbatasan” bertujuan untuk memberi manfaat psikologi sosial masyarakat luas
dalam permasalahan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia. Secara khusus
bertujuan untuk : (1) Memberikan informasi tentang kondisi disuatu daerah
perbatasan (2) Memberikan pengetahuan bahwa penggunaan bahasa Indonesia (3)
Memberikan ilmu bahwa kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah-daerah
perbatasan (4) Memberikan informasi mengenai fenomena yang terjadi disuatu
daerah perbatasan. Pengamatan ini dilakukan dengan cara bertahap yaitu dari
tahap perencanaan, pengamatan, pelaksanaan dan terakhir refleksi.
Pentingnya
daerah perbatasan untuk
lebih di perhatikan karena sudah 68 tahun Indonesia merdeka tapi dampaknya masih belum terasa di daerah perbatasan.
Contohnya didaerah Dusun Sejaro Tepatnya di Kalimantan Barat, warga disana
sangat dipengaruhi oleh informasi bahkan keterkaitan-keterkaitan dalam kehidupan
pun seperti didominasi oleh Malaysia. Sehingga penggunaan bahasa pun erat
dengan bahasa Malaysia.
Kata kunci : Fenomena Bahasa
Indonesia, Daerah Indonesia yang belum Indonesia, Dusun Sejaro Kalimantan
Barat, Pengaruh Malaysia.
DAFTAR
ISI
Halaman Judul ---------------------------------------------------------------------------- i
Kata Pengantar --------------------------------------------------------------------------- ii
Abstraksi ----------------------------------------------------------------------------------- iii
Daftar Isi
------------------------------------------------------------------------------------
iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
-------------------------------------------------------------------- 1
1.2 Rumusan
Masalah ---------------------------------------------------------------- 1
1.3 Tujuan
Penulisan ------------------------------------------------------------------ 2
1.4 Manfaat
Penulisan ----------------------------------------------------------------- 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kemajuan
Bahasa Indonesia ------------------------------------------------- 3
2.2 Daerah
Dusun Sejaro Kalimantan Barat ----------------------------------- 3-4
2.3 Pengaruh
Bahasa Malaysia --------------------------------------------------- 5-6
2.4 Perhatian
Pemerintah untuk Daerah Perbatasan ------------------------ 6-7
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
------------------------------------------------------------------------- 5
3.2 Saran
---------------------------------------------------------------------------------
5
DAFTAR PUSTAKA ----------------------------------------------------------------- 6
LAMPIRAN ------------------------------------------------------------------------------
7
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Seperti kita tahu disaat
masyarakat kota hidup dengan bergemilangan fasilitas yang berkecukupan bahkan
lebih, namun jauh dari sudut terpencil dan asing mungkin saja. Mereka hidup
dengan keterbatasan karena mereka memang tinggal di daerah perbatasan dengan
sejuta keterbatasan yang ada. Ironis memang, kita sudah merdeka puluhan tahun
tapi tidak berarti bagi masyarakat perbatasan yang selalu hidup dengan
keterbatasan. Dunia pendidikan pun tak luput dari pengamatan penulis ini,
ketidaktersediaan SDM guru yang kurang memadai dan bukan hal yang asing mereka
mengajar beberapa kelas bahkan dalam beberapa hari mereka full mengajar
dibeberapa kelas. Belum lagi fasilitas yang sangat jauh dari cukup.
1.2 Permasalahan
Untuk mencerdaskan generasi
mahal sekali bagi guru-guru didaerah perbatasan dan terpencil lainnya, jangan
heran kalau mereka tidak bisa berbicara Indonesia karena mereka tidak pernah
tersentuh untuk belajar bahasa Indonesia. Bahkan Bahasa Indonesia menjadi
semakin rancu dikarenakan terpengaruhnya bahasa asing. Padahal, beberapa kata
asing tersebut bisa saja dinyatakan dalam Bahasa Indonesia. Namun, yang akan
dibahas bukanlah permasalahan Bahasa Indonesia yang telah tercemar oleh bahasa
asing, namun lebih kepada pembahasan mengenai Bahasa Indonesia yang telah
banyak tercampur dengan bahasa negara tetangganya didaerah-daerah perbatasan.
1.3 Tujuan
Penulisan
Jika kita berbicara lagi
mengenai wilayah perbatasaan, banyak memang yang menarik untuk ditulis. Satu
hal saja diperkirakan tidak akan cukup karena memang banyak hal yang dapat
ditulis dan ini bukan hal yang sulit dilihat dan dirasa tapi ini sudah jelas
dan tampak didepan mata kita. Untuk kedepannya diharapkan dimanapun, di daerah
manapun baik perbatasan, terpencil maupun daerah lain harus menjadi “Daerah Indonesia yang Indonesia”.
1.4 Manfaat
Penulisan
Oleh karena itu saya
menyusun makalah ini untuk memberikan pengetahuan bagi khalayak bahwa ternyata
Daerah Indonesia belum menjadi Indonesia dikarenakan minimnya pengetahuan akan
berbahasa Indonesia yang memang sebagai identitas nasional dan menjadi bahasa
Negara yang dimiliki oleh Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Kemajuan
Bahasa Indonesia
Kita
harus bangga memiliki bahasa kesatuan Indonesia. Negara Indonesia dengan banyak
pulau dan banyak budaya serta bahasa telah cukup berhasil menciptakan suatu
bahasa persatuan yang diyakini dapat menyatukan seluruh rakyatnya. Bahasa
Indonesia telah menjadi tali persatuan antar suku dan bahasa. Sebagai seorang
pelajar, sudah pasti mereka fasih berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah
diajarkan sejak bangku SD. Kini, bahasa pengantar yang digunakan oleh
kebanyakan guru di daerah-daerah adalah Bahasa Indonesia. Memang benar, bahasa
nasional harus diajarkan sejak dini. Pelajaran Bahasa Indonesia pun masuk dalam
ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi. Sebagian besar penduduk
Indonesia telah sedikit banyak mengenal atau bersinggungan dengan Bahasa
Indonesia. Kemajuan zaman yang begitu cepat membuat perbendaharaan kata dalam
Bahasa Indonesia semakin meluas.
2.2 Daerah
Dusun Sejaro Kalimantan Barat
Dusun Sejaro, Desa Sekida, Kecamatan
Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat menjadi salah satu dusun
yang penggunaan Bahasa Indonesianya telah banyak sekali bercampur dengan Bahasa
Malaysia.
Sebut saja Anita salah satu mahasiswa
yang mendapatkan tugas untuk menjalankan program kerja dari kampusnya didaerah
perbatasan. Lokasinya adalah Dusun Sejaro tersebut. Selama dua puluh sembilan
hari ia tinggal dan bersosialisasi dengan warga suku Dayak Bidayuh disana,
ternyata kehidupan sehari-hari mereka pun tidak lepas dari pengaruh negara
tetangga, Malaysia. Hal tersebut terlihat mulai dari penggunaan waktu, mata
uang, saluran TV, bahasa dan budaya. Kelima hal tersebut sangat berkaitan erat
dengan negara tetangga. Warga Dusun Sejaro lebih sering berpatokan pada waktu
Malaysia, mata uang yang digunakan pun ada dua, yakni rupian dan ringgit. Ibu
Jime, istri dari Kepala Dusun Sejaro mengatakan bahwa mereka telah sejak lama
menggunakan dua mata uang tersebut. Jika mereka hanya memiliki ringgit, maka
transaksi perdagangan akan menggunakan ringgit, dan atau yang mereka miliki
hanya rupiah maka transaksi perdagangan pun akan menggunakan rupiah. Baik
rupiah maupun ringgit sama pentingnya dan keduanya sah-sah saja digunakan di
wilayah perbatasan tersebut. Nilai per satu ringgit adalah tiga ribu rupiah.
Selain mata uang, saluran televisi rupanya berdampak pula pada kehidupan
sehari-hari warga. Informasi yang masuk ke dalam dusun tersebut hanyalah
informasi mengenai perkembangan Malaysia dan permasalahan yang sedang dihadapi
Malaysia. Warga tidak perlu repot-repot menggunakan antena atau parabola untuk
menangkap saluran televisi Malaysia. Mereka hanya perlu menyediakan satu tv
dengan listrik dan secara otomatis, saluran tv Malaysia akan masuk dengan kualitas
gambar yang bagus. Sebaliknya, untuk menangkap saluran tv dari Indonesia,
dibutuhkan parabola. Hanya orang-orang kaya saja yang memiliki parabola, salah
satunya Kepala Dusun Sejaro, Bapak Lejian.
2.3 Pengaruh
Bahasa Malaysia
Begitu besarnya pengaruh Malaysia
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat perbatasan berpengaruh pula terhadap
penggunaan bahasa. Meskipun bahasa lokal mereka adalah bahasa Dayak, namun
untuk beberapa kegiatan, mereka akan menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Dayak
antar sub suku berbeda-beda. Meskipun sama-sama suku Dayak, namun penggunaan
Bahasa Dayak Bidayuh, Dayak Bekatih dan Dayak Iban sama sekali berbeda. Bahasa
Indonesialah yang seringkali mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan warga
Dayak lainnya. Sangat terlihat sekali perbedaaan Bahasa Indonesia di Dusun
Sejaro dengan di wiilayah-wilayah Pulau Jawa pada umumnya. Begitu banyak
kata-kata yang keliru. Warga Dayak pada umumya masih kesulitan dalam membedakan
huruf r dan l. Beberapa kasus misalnya, kata terimakasih akan ditulis
telimakasih, halo menjadi haro. Fenomena ini tidak hanya dilakukan oleh
anak-anak, namun juga oleh para orangtua. Selain itu, pengaruh Bahasa Melayu
Malaysia juga terjadi disini. Ciri khas bahasa Malaysia adalah masih adanya
unsur Bahasa Inggris di dalamnya. Memang, sebagian besar negara hasil jajahan
Inggris memiliki bahasa yang masih terpengaruh oleh negara penjajahnya.
Beberapa kata seperti tas dan sepede akan dilafalkan bag dan bycicle (beg dan basikel).
Ketika tim Anita mengadakan penyuluhan mengenai kebersihan lingkungan, beberapa
warga sulit menangkap maksud dari kalimat-kalimat yang mereka sampaikan.
Padahal mereka sudah sebisa mungkin
menggunakan kalimat yang umumnya dipahami oleh orang awam. Seperti yang tadi
dipaparkan di awal bahwa informasi yang masuk sebagian besar adalah informasi
dari Malaysia. Bahasa pun demikian, warga Dusun Sejaro lebih sering mendengar
percakapan dalam Bahasa Malaysia daripada Bahasa Indonesia. Hal tersebut
membuat para warga semakin terbiasa dengan komunikasi dalam Bahasa Malaysia.
Menurut penuturan Kepala Dusun Sejaro, Bapak Lejian, pengaruh Bahasa Malaysia
di wilayah perbatasan memang umum terjadi. Hal tersebut karena warga perbatasan
cenderung lebih banyak berinteraksi dengan negara tetangganya, selain itu juga karena
suku Dayak di Kalimantan Barat masih memiliki hubungan darah dengan Suku Dayak
yang ada di Malaysia. Sebagian besar warga di Dusun Sejaro pergi merantau ke
Malaysia, jarang sekali yang merantau ke Jakarta. Menurut Bapak Lejian (Kepala
Dusun Sejaro), pada masa mudanya, banyak sekali kawan-kawannya yang melanjutkan
SMP dan SMA di Malaysia, karena lokasi SMP dan SMA di Indonesia terlalu jauh
dan sulit ditempuh karena medannya yang rusak parah.
2.4 Perhatian
Pemerintah untuk Daerah Perbatasan
Meskipun terdapat beberapa
perbedaan dalam pengucapan Bahasa Indonesia di wilayah perbatasan, namun
ternyata Bahasa Indonesia telah berhasil menyatukan warganya dalam hal
komunikasi. Tim dari Anita benar-benar merasakan manfaatnya. Mereka merasa
sangat mudah berinteraksi dengan mereka.
Tim Anita tidak mungkin bisa
mempelajari Bahasa Dayak hanya dalam waktu 29 hari saja. Perbedaan dalam
pengucapan tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap interaksi antar warganya,
meskipun ada beberapa kata yang belum mereka pahami. Sepertinya ada satu hal
yang harus dibenahi di seluruh wilayah perbatasan. Mereka sangat membutuhkan
perhatian pemerintah dalam hal pembangunan daerahnya masing-masing. Pemahaman
terhadap sikap cinta tanah air sangat perlu untuk diterapkan di wilayah perbatasan,
karena bisa jadi mereka akan sangat bergantung kepada negara tetangga yang
berakibat pada keinginan daerah tersebut untuk melepaskan diri dari bagian NKRI
dan menjadi bagian dari negara tetangga. Kita pasti sudah tidak ingin lagi
mendengar adanya pencaplokan wilayah bukan? Itulah cuplikan kisah penggunaan
bahasa yang seringkali ditemukan di wilayah perbatasan di Kalimantan.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Luasnya wilayah perbatasan
laut dan darat Indonesia tentunya membutuhkan dukungan sistem manajemen
perbatasan yang terorganisir dan profesional, baik itu ditingkat pusat maupun
daerah. Akan tetapi minimnya infrastruktur di kawasan perbatasan telah
menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki sebuah sistem manajemen perbatasan
yang baik. Perbandingan kondisi antara daerah daerah yang berada di tengah
dengan yang berada di pinggir sangat jelas terlihat. Hal ini memperlihatkan
tingkat kesenjangan yang tinggi antara daerah tengah dan daerah pinggir. Terutama mengenai pendidikan yang
merupakan salah satu modal yang sangat penting untuk menjalani kehidupan
bermasyarakat, dengan adanya pendidikan kita bisa mengetahui berbagai macam
informasi. Kita bisa mendapatkan pendidikan moral, kedisiplinan, agama, sosial
dan masih banyak lagi yang bisa kita dapatkan. Termasuk kurangnya fasilitas
pengajar dan pendukung lainnya yang harusnya bisa membimbing mereka untuk 1
berbahasa yaitu Bahasa Indonesia. Padahal daerah pinggir khususnya daerah
perbatasan sangat perlu untuk mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Oleh
karena itu infrastruktur yang ada pada daerah perbatasan tersebut haruslah
memadai demi ketahanan negara dan demi lenyapnya kesenjangan sosial yang
terlalu tinggi.
3.2 Saran
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.” Begitulah bunyi sila ke-5 dari pancasila , yang dimana pancasila
adalah dasar negara kita , oleh karena itu seharusnya penanganan daerah-daerah
yang ada di Indonesia ini dilakukan secara adil, tidak terlalu terpusat ke satu
daerah saja seperti yang ada saat ini . Pembangunan di Indonesia terkesan hanya
terpaku pada dua “ibu” , yaitu ibu kota negara dan ibu kota provinsi. Hal ini
menyebabkan adanya kesenjangan sosial yang sangat tinggi. Maka pembangunan
harusnya dapat dilakukan secara merata sehingga tidak ada penyimpangan
khususnya didaerah perbatasan. Terutama terkait yang sangat penting tercemarnya
bahasa Indonesia karena telah terpengaruh oleh budaya bahkan hingga bahasa
lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Faisal, Rahman. 2011. Daerah
Perbatasan, “Indonesia yang Belum Indonesia”. http://faisal14.wordpress.com/2011/02/10/daerah-perbatasan-indonesia-yang-belum-indonesia/
Winarsih, Fajar. 2012. Fenomena Bahasa di Perbatasan : Perkawinan Antara Bahasa Indonesia
dengan Bahasa Melayu Malaysia. Jakarta: Kompas.
----------. 2013. Pembangunan
Infrastruktur di Daerah Perbatasan Kalimantan – Malaysia. http://sipildankewarganegaraan.wordpress.com/2013/02/11/pembangunan-infrastruktur-di-daerah-perbatasan-kalimantan-malaysia/
2 komentar:
kak, aku izin buat ngecopy beberapa kalimat dari sini buat artikel aku kak. apabila tidak di izinkan, aku tidak akan meng copynya kak hehe terimakasih
Monggo jika bisa bermanfaat. :)
Posting Komentar