Jumat, 11 Oktober 2013
Meneguhkan Semangat Berqurban
Idul Adha , sebentar lagi menyapa kita, satu dari dua hari raya
dalam Islam, tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahunnya. Di antara
rangkaian ibadah yang Allah hadirkan di bulan tersebut adalah berkurban, seperti
tercantum dalam surat al-Kautsar ayat kedua, “Maka dirikanlah sholat karena
Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Dalam ayat tersebut Allah merangkai sholat dengan kurban, meski
berbeda secara hokum. Sholat hukumnya wajib semesntara kurban hukumnya sunnah. Namun,
keduanya memiliki urgensi yang penting dalam kehidupan setiap muslim. Sholat merupakan
ikatan seorang hamba dengan Allah, sementara kurban merupakan ibadah sosial
yang manfaatnya dirasakan secara langsung oleh sesama.
Rangkaian dua ibadah ini mengingatkan kita, bahwa hubungan
dengan pencipta belumlah sempurna tanpa ada kepedulian kepada sesame. Dalam istilah
lainnya Al-Qur’an menyebutkan Hablumminallah
disempurnakan dengan Hablumminannas. Setiap
ibadah, termasuk kurban haruslah dilandasi dengan motif dan niat yang ikhlas
untuk mendapatkan pahala dan keridhaan Allah. Karena itulah Allah tegaskan
kepada kita, menunaikan sholat dan berkurban hanya karena Allah, untuk mencari
Ridha-Nya, bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia.
Ibadah kurban memiliki keistimewaan tersendiri, berbeda dengan
ibadah shodaqoh maupun infaq yang juga memiliki dimensi sosial. Kurban hadir
hanya sekali dalam setahun dan waktunya juga terbatas, hanya empat hari yaitu
hari raya Idul Adha dan 3 hari setelahnya yang dikenal dengan hari Tasyriq.
Karenanya ibadah ini disamping langsung bisa dirasakan
manfaatnya dengan mengkonsumsi dagingnya, kurban juga menggerakan sektor ekonomi
kaum muslimin jika dikelola dengan baik. Menghidupkan peternakan dan
perdagangan disektor ini.
KURBAN SEBAGAI BUKTI KETAKWAAN
Hampir semua rangkaian ibadah yang Allah perintahkan bertujuan
agar kaum muslimin menjadi orang yang bertakwa, termasuk ibadah kurban. Seperti
tercantum dalam ayat berikut ini, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ketakwaan yang Allah berikan penilaian dan bukti dari ketakwaan
itu dengan melakukan ibadah kurban. Biasanya setiap kita gampang untuk
melakukan hal yang diwajibkan terlebih jika dilakukan secara bersama-sama,
seperti puasa Ramadhan. Namun lain halnya
jika ibadah bernilai sunnah, hanya orang yang bertakwalah yang ringan
melakukannya.
MENYIAPKAN DIRI AGAR MAMPU BERKURBAN
Bagi mereka yang memiliki kelebihan harta untuk berkurban,
sangat mudah jika hendak berkurban . lain halnya bagi mereka yang finansialnya
kurang. Namun, sejatinya bisa disiasati dengan mempersiapkan jauh hari untuk
menunaikan ibadah ini. Banyak cara yang b isa dilakukan agar kita mampu
berkurban, bisa lewat menabung, memlihara ternak dari kecil dan lain
sebagainya.
Kuncinya adalah persiapan matang yang direncanakan jauh hari
sebelumnya. Bersyukurlah jika kita mampu berkurban ditahun ini. Jika masih
tidak, masih ada kesempatan untuk merencanakannya dengan baik ditahun
mendatang.
BELAJAR DARI KELUARGA NABI IBRAHIM AS
Ibadah kurban sangat erat dengan kisah menyejarah keluarga Nabi
Ibrahim AS. Ketika Allah menyuruh Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya
tercinta, Ismail AS. Dengan penuh ketaatan dan ketundukan Nabi Ibrahim
menunaikan perintah, setelah sebelumnya berdialog dengan puteranya, Ismail.
Dan, jawaban mengagumkan pun tercetus dari Ismail yang memiliki kesabaran dan
tawakal yang tinggi kepada Allah. Kemudian Allah mengganti sembelihan dengan
domba.
Saat ini, ketika kita mengenang kembali kisah menyejarah
tersebut, seharusnya kita mudah untuk patuh kepada Allah dengan berkurban. Sebagai
simbol bagi perjuangan menuju Allah. Mencintai dan mendahulukan Allah meski
harus membayarnya dengan harta yang kita cintai. Allah menceritakan kepada kita
kisah menyejarah tersebut dalam Al-Qur’an :
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat
dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia
menjawab : “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu;
insyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala
keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas
pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia “Hai
Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah
Kami member balasan kepada orang-orang ysng berbuat baik. Sesungguhnya ini
benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan
yang besar.” (QS. As-Shaffat: 102-107)
Melalui ibadah kurban, kita diajarkan untuk menyiapkan keluarga
yang bertakwa, mendekatkan diri kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya. Sehingga
terasa manfaatnya baik oleh anggota keluarga maupun tetangga dan masyarakatnya.
MERAIH KEMULIAAN LEWAT BERKURBAN
Tak bisa dipungkiri, berkurban akan mengantarkan kepada
kemuliaan, baik disisi manusia maupun
disisi Allah. Secara manusiawi orang yang dermawan lebih mendapatkan
penghormatan dibandingkan mereka yang bakhil, dan mendapatkan doa dari sesame dan
dari orang-orang yang mendapatkan manfaat darinya. Sehingga menjadikannya hidup
dalam kemuliaan, dan diberikan kecukupan karena berbagi. Sebab, Allah
memberikan ganti dari apa yang kita berikan, baik shodaqoh infaq maupun
berkurban, didunia ini sebelum diakhirat
kelak.
Untuk meraihnya marilah kita mengikuti Rasulullah SAW dan para
sahabatnya yang setiap tahun sekali menunaikan ibadah kurban. Bahkan pada zaman
Umar Bin Khattab, beliau sampai mencari para sahabatnya yang belum berkurban
untuk dibantu agar bisa berkurban. Sementara itu mereka yang suka berbagi akan
mendapatkan kemuliaan disisi Allah, mendapatkan anugerah takwa yang disediakan
baginya syurga yang seluas langit dan bumi.
MENEGUHKAN SEMANGAT BERKURBAN
Ibadah kurban merupakan simbol kedermawanan seorang muslim dan
menjadikannya sebagai karakter yang tak terpisahkan karena keterulangannya
setiap tahun sekali. Karakter ini membuatnya menjadi seorang yang peka dan
peduli kepada sesame. Dirasakan kebaikannya oleh keluarga, karib kerabat,
tetangga, masyarakat dan kaum muslim secara umum. Bahkan ikatan ukhuwah
membuatnya tidak menutup mata terhadap penderitaan kaum muslimin, meski jauh
secara teritorial. Dukungan Morril dan materil dirasakan saudaranya yang
terjajah seperti di Mesir, Suriah, Rohingya dan dinegara maupun dimana kaum
muslimin berjumlah minoritas.
Untuk meneguhkan semangat berkurban ini, bisa dilakukan dengan
membaca sejarah para Nabi, meneladani Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Berempati
terhadap kaum dhuafa, fakir-miskin, anak-anak yatim dan mereka yang terlibat
aktif dalam dakwah dan jihad, mengorbankan waktu, tenaga, harta dan bahkan
jiwa.
Terus istiqomah dan berkontribusi aktif dalam kebaikan, menambah
wawasan pengetahuan, menjadi da’I sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing,
meski hanya menyampaikan satu kebaikan. Maka dengan ini semua, diharapkan mampu
menjaga semangat berkurban yang pada akhirnya melahirkan kemuliaan, kenyamanan
dalam hidup dan keberkahan dalam semua urusannya, dan mendapatkan anugerah
kebahagiaan didunia dan di akhirat, seperti dalam doa yang sering dilantunkan :
Dan diantara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan Kami,
berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami
dari siksa neraka.” (QS: Al-Baqarah: 201) Aamiin..
0 komentar:
Posting Komentar